Meningkatkan Wawasan Dengan Berbagi Pengetahuan

Rabu, 25 Desember 2013

Tanjung Pinang si Kota Gurindam



Apabila terpelihara mata, sedikitlah cita-cita.
Apabila terpelihara kuping, khabar yang jahat tiadalah damping.
Apabila terpelihara lidah, nescaya dapat daripadanya faedah.
Bersungguh-sungguh engkau memeliharakan tangan, daripada segala berat dan ringan.
Apabila perut terlalu penuh, keluarlah fi'il yang tiada senonoh.
Anggota tengah hendaklah ingat, di situlah banyak orang yang hilang semangat
Hendaklah peliharakan kaki, daripada berjalan yang membawa rugi.
(ini gurindam pasal yang ketiga, Gurindam 12 karya Raja Ali Haji)

Masjid 'ikon' Pulau Penyengat

Kepulauan Riau merupakan provinsi baru -hasil pemekaran dari provinsi Riau, terbentuk berdasarkan Undang-undang Nomor 25 tahun 2002 dengan ibukota provinsi di Kota Tanjung Pinang dan merupakan Provinsi ke-32 di Indonesia. Wilayah administratif provinsi ini, terdiri dari: 5 Kabupaten dan 2 Kota; 52 Kecamatan; serta 299 Desa/Kelurahan. Kota dan Kabupaten tersebut, mencakup: Kota Tanjung Pinang, Kota Batam, Kabupaten Bintan ber-ibukota di Bandar Seri Bentan, Kabupaten Karimun ber-ibukota di Tanjung Balai Karimun, Kabupaten Natuna ber-ibukota di Ranai, Kabupaten Kepulauan Anambas ber-ibukota di Terempa dan Kabupaten Lingga ber-ibukota di Daik.
Provinsi Kepulauan Riau berbatasan dengan Vietnam dan Kamboja di sebelah Utara; dengan Malaysia dan Provinsi Kalimantan Barat di Timur; dengan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dan Jambi di Selatan; serta dengan Singapura, Malaysia dan Provinsi Riau di sebelah Barat. Provinsi ini berada pada koordinat: 1º 10' Lintang Selatan hingga 5º 10' Lintang Utara, dan 102º 50' hingga 109º 20' Bujur Timur. Memiliki kurang lebih 2.408 pulau besar dan kecil yang 30% belum bernama dan berpenduduk. Adapun wilayahnya seluas 252.601 km², sekitar 95% merupakan lautan dan hanya sekitar 5% daratan.
Bandara Raja Haji Fisabilillah (RHF), Tanjung Pinang - Provinsi Kepulauan Riau.
Provinsi Kepulauan Riau memiliki 5 bandara udara, yakni: Bandara Internasional Hang Nadim –di Kota Batam, Bandara Raja Haji Fisabilillah –di Kota Tanjung Pinang, Bandara Ranai –di Kabupaten Natuna, Bandara Dabo –di Dabo Singkep, Kabupaten Lingga, dan Bandara Matak –di Matak, Kabupaten Kepulauan Anambas. Bandara Internasional Hang Nadim (Batam) merupakan sebuah kebanggaan bagi Provinsi Kepulauan Riau, karena bandara ini mempunyai landasan terpanjang di Asia Tenggara. Dalam waktu dekat, sebuah bandara baru akan dibangun di provinsi ini yang terletak di Kabupaten Bintan Utara. Bandara baru ini dinamakan Bandara Busung, yang konon dikabarkan akan menempati luas area sampai 170 hektar.
Tanjung Pinang - Provinsi Kepulauan Riau.

Monumen, Kuil, dan Pantai
Monumen Gurindam 12, Tanjung Pinang.
Di Kota Tanjung Pinang, terdapat Monumen Gurindam Dua Belas. Sebuah monumen yang berisi gurindam atau syair gubahan Raja Ali Haji. Seorang budayawan di gerbang abad ke-20. Beliau dinobatkan sebagai Bapak Bahasa Melayu Indonesia. Gurindam Dua Belas ini adalah hasil karya beliau yang terkenal, yang akhirnya menjadikan Tanjung Pinang dikenal sebagai Kota Gurindam. Di daerah Batu 14 di Tanjungpinang, menggunakan istilah ‘batu’ untuk menyatakan kilometer. Jadi, 1 batu = 1 km, sebuah wihara yang mengingatkan kita pada bangunan-bangunan kuil Shaolin, tampak menarik perhatian. Vihara Avalokitesvara Graha, nama kuil megah tersebut. Setelah melewati singa penjaga –yang diam saja sewaktu kita lewat, mata kita langsung disambut oleh hamparan kebun yang ditanami sayuran. Dan tampaklah patung-patung penjaga yang berjejer rapi di sepanjang jalan menuju bangunan utama kuil. Di dalam bangunan utama kuil tersebut, ada sebuah patung Dewi Kwan Im dalam posisi duduk yang tingginya mencapai 16,8 meter. Patung yang dibalut warna emas itu, didatangkan langsung dari Cina. Normalnya, perjalanan dari Tanjung Pinang ke Pantai Trikora, hanya satu setengah jam. Pantai ini terletak di Pulau Bintan, Desa Malang Rapat, Kecamatan Gunung Kijang –berjarak sekitar 45 kilometer arah Timur Kota Tanjung Pinang. Pantai ini terdiri dari 4 bagian, yaitu Trikora 1, 2, 3, dan 4. Pemandangan di pantai Trikora ini, begitu indah. Di sepanjang pantai –yang memiliki garis pantai sepanjang  25 kilometer ini, ditumbuhi ribuan pohon kelapa dan pohon-pohon lainnya, seperti: pohon bakau, dipadu dengan pasir pantainya yang putih bersih. Ditambah lagi terdapat batu-batu besar di pantai, menambah keindahan pantai ini. Batu-batu tersebut, sering digunakan pengunjung untuk tempat memancing. Di kawasan pantai ini terdapat kedai-kedai penjual makanan dan minuman yang menjual berbagai jenis makanan, seperti: mie rebus sampai ikan bakar. Menatap ke tengah laut, terlihat kelong yang terbuat dari kayu dengan atap daun rumbia untuk alat menangkap ikan yang digunakan warga setempat.
Pantai Trikora, Pulau Bintan.
Dermaga Pulau Penyengat Inderasakti

Pulau Penyengat, Pulau Kecil Bersejarah Besar
Berkunjung ke Pulau Bintan, tidaklah lengkap tanpa singgah di Pulau Penyengat. Pulau Penyengat atau Pulau Penyengat Inderasakti dalam sebutan sumber-sumber sejarah, adalah sebuah pulau kecil yang berjarak kurang lebih 3 km dari Kota Tanjung Pinang –pusat pemerintahan Provinsi Kepulauan Riau. Pulau ini berukuran kurang lebih 2.500 meter x 750 meter, dan berjarak lebih kurang 35 km dari Pulau Batam. Pulau ini dapat dituju dengan menggunakan perahu bot atau lebih dikenal bot pompong. Dengan menggunakan perahu pongpong atau bot pompong -yang bisa memuat 20-30 orang, memerlukan waktu tempuh kurang lebih 15 menit. Untuk sampai ke pulau ini, kita bisa menyebrang dari pelabuhan khusus menuju Pulau Penyengat yang berada di Kota Tanjung Pinang, tak jauh dari Pelabuhan Sri Bintan Pura. Sesampai di dermaga Pulau Penyengat, kita akan ditawari jasa transportasi untuk angkutan berkeliling pulau oleh abang-abang Bentor –becak bermotor yang mangkal di pelabuhan, karena hanya transportasi ini saja yang dapat mengelilingi pulau ini. Mengingat Pulau Penyengat, ukuran pulaunya: kecil.
Perahu Pompong atau Bot Pongpong, Pulau Penyengat.
Naik Bentor 'Becak n Bermotor', Tour di Pulau Penyengat.
Bukan 'Ketua Ojek' Sembarangan, Pulau Penyengat.
Menurut cerita yang berkembang di kalangan masyarakat setempat, nama pulau ini diambil dari nama hewan lebah atau penyengat. Alkisah, dahulu kala ada seorang saudagar yang hendak singgah di pulau ini untuk mengambil air. Maklum, pulau ini dikenal sebagai lumbung air tawar. Namun, begitu menginjakkan kaki di pulau ini, ia diserang ribuan lebah yang bersembunyi di pepohonan. Saudagar itu pun lari sambil berteriak 'penyengat... penyengat... penyengat'. Agaknya, dari sinilah nama "Penyengat" itu berasal.
Komplek Makam Para Raja, Pulau Penyengat.
Pulau Penyengat merupakan salah satu obyek wisata di Kepulauan Riau. Di pulau ini, objek-objek yang bisa kita lihat adalah: Masjid Raya Sultan Riau yang terbuat dari putih telur, makam-makam para raja (Raja Ahmad –Penasihat Kerajaan, Raja Ali Haji –Pujangga Kerajaan/Pahlawan Nasional yang terkenal dengan Gurindam 12-nya, Raja Ja'afar, Raja Ali Marhum Kantor dan Raja Abdullah IX bersama permaisurinya –Raja Aisyah) yang berada di tengah-tengah Pulau Penyengat, makam Engku Putri Raja Hamidah (wafat 12/7/1844), kompleks Istana Kantor, Benteng pertahanan di Bukit Kursi, dan Balai Adat yang merupakan tempat penyimpanan perkakas raja dan tuan putri. Pulau Penyengat dan komplek istana di Pulau Penyengat telah dicalonkan ke UNESCO untuk dijadikan salah satu Situs Warisan Dunia.
Pada abad ke-18, Raja Haji membangun sebuah benteng di Pulau Penyengat, benteng tersebut tepatnya berada di Bukit Kursi, di sana ditempatkan beberapa meriam sebagai basis pertahanan Bintan. Ia menguasai wilayah istrinya Raja Hamidah tahun 1804. Anaknya kemudian memerintah seluruh Kepulauan Riau dari Pulau Penyengat. Sementara itu, saudara laki-lakinya memerintah di Pulau Lingga di sebelah Selatan dan mendirikan Kesultanan Lingga-Riau. Pada waktu itu, selain istana sebagai tempat tinggal raja, pulau ini juga memiliki mahkamah, rumah sakit, dan sarana transportasi yang memadai. Konon, posisi pulau ini menjadi sangat penting ketika berkobar 'Perang Riau' pada akhir abad ke-18. Kala itu, Raja Haji Fisabilillah menjadikan Pulau Penyengat sebagai wilayah pertahanan utama.
Konon menurut Hikayat MelayuTuhfat al-Nafis yang ditulis oleh Raja Ali Haji, Pulau Penyengat ini merupakan mahar pernikahan Sultan Riau Mahmud III (Sultan Mahmud Marhum Besar) untuk meminang putri dari Raja Haji Fisabilillah (Engku Putri Raja Hamidah) sebagai permaisuri. Di masa Engku Putri, Pulau Penyengat ini menjadi pusat pemerintahan Kerajaan Melayu Riau-Lingga bahkan sampai ke daerah yang ditaklukan yaitu Johor dan Pahang yang kini menjadi negara bagian Malaysia. Engku putri dimakamkan di Pulau Penyengat bersama dengan istri-istri lain dari Sultan serta beberapa keluarga kerajaan. Letaknya cukup dekat dari kompleks Masjid Penyengat. Kompleks makam yang ada di Pulau Penyengat cukup banyak, namun makam Engku Putri selalu menjadi kompleks makam yang paling ramai dikunjungi peziarah.
Pulau Penyengat, Tanjung Pinang - Provinsi Kepulauan Riau.

Engku Putri Raja Hamidah (Permaisuri dan Pemegang Regalia Kesultanan Riau)
Engku Putri atau Raja Hamidah adalah sosok perempuan yang tegas dan kharismatik. Beliau terlahir dari keluarga bangsawan Melayu dan Bugis. Ayahnya adalah seorang pemimpin dan Laksamana Kerajaan Riau yang terkenal pemberani dalam memerangi penjajah di Tanah Melayu, yaitu Raja Haji Fisabilillah. Sebagai perempuan keturunan campuran Melayu yang jelita, gemulai, dengan Bugis yang tegar, teguh, dan kharismatis, tentulah dapat dibayangkan pada sosoknya. Beberapa sumber tertulis, menyebutkan Raja Hamidah sebagai seorang perempuan yang sangat elegan, cerdas dan bijaksana. Selain memegang peran sebagai seorang permaisuri, Raja Hamidah juga menjadi salah satu penasehat sang sultan. Dia begitu setia mendampingi hari-hari sultan hingga Sang Sultan Mahmud III wafat (1812).
Setelah sultan wafat, kesetiaannya terhadap negeri dan sultan di uji. Terjadi konflik internal yang menyebabkan Kesultanan Riau terpecah. Perebutan kekuasan terjadi, baik dari pihak dalam kesultanan maupun dari pihak penjajah, namun ketegaran dan ketegasan sang Raja Hamidah untuk tetap mempertahankan Regalia (pusaka kesultanan/ alat-alat kebesaran kerajaan) hingga sampai akhir hanyatnya, membuat namanya begitu dikenang hingga saat ini dan tercatat dalam sejarah Kesultanan Riau. Engku Putri atau Raja Hamidah mengemban amanat sebagai pemegang regalia kesultanan. Regalia adalah benda pusaka yang dianggap keramat dan sakti. Selain sebagai simbol berharga dari kesultanan, regalia juga digunakan sebagai syarat sah kepemimpinan seorang sultan. Seseorang tidak dapat diakui sebagai sultan jika regalia tidak diserahkan kepadanya, meskipun daerah kesultanan sudah dikuasai oleh penguasa lain dan rajanya telah diusir dari wilayahnya, namum kekuasan tetap diakui kepada sang pemegang regalia, dan dia bisa membangun kembali kesultanannya di daerah lainnya meskipun dia telah diusir. Atas jasa dan kesetiannya itu, hingga saat ini, Regalia Kesultanan Johor Riau Lingga masih dapat dipertahankan dan disimpan di Museum Indonesia.
Pulau Penyengat - Provinsi Kepulauan Riau.

Masjid Pulau Penyengat
Masjid Raya Sultan Riau, Pulau Penyengat.
Masjid Raya Sultan Riau –lebih dikenal dengan sebutan Masjid Pulau Penyengat, menjadi landmark dari pulau ini. Masjid ini didirikan tahun 1832 M, atas prakarsa Raja Abdurrahman, Yang Dipertuan Muda Riau VII. Masjid ini berukuran 18 x 19,8 meter,  berdiri di atas lahan seluas sekitar 55 x 33 meter. Keseluruhan bangunan masjid berwarna kuning. Menurut cerita masyarakat, Sultan memerintahkan menggunakan putih telur untuk memperkuat dinding masjid. Sementara untuk warna, menggunakan kuning telur. Tentu berton-ton telur digunakan untuk mengecat masjid ini agar tampak mencolok. Tapi sekarang, warna masjid yang berwarna kuning sudah menggunakan pelapis cat. Masjid Penyengat, dibangun di atas tanah yang cukup tinggi. Sepanjang sisi masjid dikelilingi tembok yang cukup tinggi sehingga menyerupai benteng. Di depan masjid terdapat unit bangunan yang terpisah-pisah, masing-masing dalam posisi simetris. Banguan sejenis bale di dua sisi halaman masjid bergaya arsitektur melayu berbentuk rumah panggung tanpa dinding dengan ornamen dan ukiran kayu. Pada bangunan masjid ini terdapat empat menara yang menghias kubahnya yang berbentuk seperti bawang dengan puncak menara berbentuk sangat runcing seperti pensil. Tampaknya menara ini dipengaruhi oleh menara-menara masjid di Turki, yang sebenarnya berasal dari gaya arsitektur Bizantium. Posisi menara, berada disetiap sudut ruang utama sembahyang. Ada dua bangunan kembar di kiri dan kanan depan masjid yang berdinding beratap limasan batu –masyarakat setempat menyebut bangunan kembar tersebut: Sotoh. Tempat tersebut berfungsi sebagai tempat permusyawaratan para ulama dan cendekiawan. Sementara di bagian belakang, terdapat sejumlah makam keluarga Sultan. Pesona bangunan masjid ini juga terlihat dari kubah-kubahnya yang berjumlah 17 buah yang merepresentasikan jumlah rakaat shalat 5 waktu. Masuk ke dalam masjid kita dapat melihat koleksi perpustakaan Raja Muhammad Yusuf al Ahmadi, yang Dipertuan Muda Riau X, melihat mimbar khotib yang khas terbuat dari ukiran kayu serta kitab-kitab kuno dan kitab suci Al-Quran bertulis tangan. Juga terdapat tanah, yang menurut masyarakat setempat merupakan tanah dari Kota Mekah. Ruang dalam masjid, sebenarnya tidak cukup luas. Hanya dapat menampung kira-kira sepuluh shaf jamaah sholat. Nuansa interior masjid penuh dengan warna putih dengan hiasan warna hijau dan kuning emas. Mitos yang berkembang di masyarakat setempat, apabila kita mempunyai keinginan yang belum tercapai agar tercapai, bila berdoa di masjid ini, insya Alloh dapat terkabulkan. Tentunya minta doanya kepada Alloh SWT.
Jika kita berkeliling sampai ke bagian belakang pulau, kita akan menemukan sebuah rumah adat melayu yang telah disulap menjadi museum. Di sini pemandangan cukup indah dan tepat berhadapan dengan pelantar yang jauh menjorok ke laut. Ruangan dalam museum, ditata menyerupai kantor pemerintahan yang dahulu ada di Pulau Penyengat ini. Yang sangat menarik perhatian adalah koleksi foto hitam putih kegiatan pemerintahan Kerajaan Melayu. Mulai dari potret raja-raja, sampai dengan tokoh-tokoh penting dalam sejarah kerajaan. Bangunan ini berbentuk rumah panggung yang cukup besar. Di bawah rumah, terdapat sumur yang meskipun letaknya tidak cukup jauh dari laut, sumur tersebut memiliki rasa air yang tawar.

Balai Adat Melayu Indera Perkasa
Para pengunjung Pulau Penyengat, pastilah tidak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk berkunjung ke bangunan khas Melayu tersebut. Sesuai namanya, bangunan tersebut digunakan oleh warga Pulau Penyengat sebagai Balai Adat dengan kegiatan seperti pertemuan-pertemuan atau kegiatan lain yang ada kaitannya dengan adat Melayu Riau. Balai Adat ini, lokasinya menghadap pantai –hanya jalan yang membatasinya dengan pantai.
Balai Adat Melayu Indera Perkasa, Pulau Penyengat.
Di dalam kompleks Balai Adat Melayu, terdapat Balai Utama yang berukuran cukup besar serta lima buah balai kecil yang berada di kedua sisinya. Begitu masuk ke bagian depan dari Balai Utama, kita akan mendapati deretan puisi-puisi Gurindam 12 dipajang di dindingnya. Dari sini, kita bisa dengan jelas melihat indahnya pemandangan laut dengan sebuah dermaga yang panjang dan menjorok ke lautan. Bagian dalam Balai Utama, merupakan bagian yang tak boleh dilewatkan. Beberapa photo dari para sultan, dipajang di dinding bagian atas. Pada dasarnya, ruang bagian dalam tersebut merupakan ruang acara pernikahan. Warga Pulau Penyengat biasanya melangsungkan pesta pernikahan di ruang tersebut. Tiga buah pelaminan telah tersedia permanen di sana. Tampilannya yang 'ngejreng' khas Melayu, tentu saja akan menjadikan pesta pernikahan mereka menjadi semarak. Di hari-hari biasa, ketiga pelaminan tersebut menjadi salah satu daya tarik dari Balai Adat Melayu. Di sisi kanan dari Balai Utama, terdapat ruangan yang digunakan sebagai kamar pengantin. Ada kamar tidur pengantin berwarna kuning dengan kelambu berwarna putih serta berbagai hiasan kain yang dipasang di dinding kamar. Sebagaimana rumah panggung khas Melayu, Balai Adat ini juga memiliki bagian bawah. Nah, di bagian bawah tersebut terdapat mata air. Pengunjung dapat membasuh mukanya dengan air tersebut. Panasnya mentari yang sinarnya mengenai wajah, terasa akan menyegarkan kembali oleh siraman air yang dingin.
Pantai Pulau Penyengat, Tanjung Pinang - Provinsi Kepulauan Riau.

Gedung Mesiu
Di Pulau Penyengat, terdapat sebuah bangunan yang: bercat kuning, berdinding tebal –kira-kira lebih dari 40 cm, memiliki kubah, dan berjendela kecil –disetiap jendelanya berjeruji. Bangunan itulah yang disebut sebagai Gedung Mesiu atau Gudang Mesiu. Bangunan ini berguna untuk tempat penyimpanan obat bedil (senapan angin) pada masa itu, dan termasuk sebagai salah satu Benda Cagar Budaya. Mungkin itulah sebabnya gedung ini memiliki dinding yang sangat tebal, tidak lain untuk melidungi masyarakat sekitarnya dari bahaya, seperti: kebakaran atau ledakan.
Gedung Mesiu - 'Arsenal'-nya Pulau Penyengat, Provinsi Kepulauan Riau.
Gedung Mesiu, tepatnya berada di daerah Bukit Kursi. Oleh Pemerintah Daerah Tanjung Pinang, di depan Gedung Mesiu dibuat sebuah papan bertuliskan: “pada masa kerajaan Riau dahulu, bangunan yang berdinding tebal, memiliki kubah bertingkat, jendela kecil, dan berjeruji besi ini digunakan sebagai gudang tempat penyimpanan mesiu (obat bedil)”. Seperti kita ketahui, mesiu ini adalah bahan peladak berbentuk bubuk, terbuat dari campuran belerang, arang dan kalium nitrat yang membakar sangat cepat, berguna sebagai bahan pendorong pada senajata api atau  kembang api.
Sebelum Pulau Penyengat dijadikan suatu negeri, tempat ini dijadikan tempat pertahanan oleh raja kecil. Oleh karena itu, di daerah ini ditemukan gudang tempat penyimpanan senjata. Dulunya, Gedung Mesiu –Gedung Obat Bedil ini ada empat buah, tetapi yang lainnya telah musnah, sekarang hanya tinggal satu buah saja.

Bandar Bentan Telani
Terminal Ferry Bandar Bentan Telani, bukanlah sembarang terminal ferry. Dia merupakan 'terminal ferry super'. Dibangun pada April 1992, terminal ini rampung dan dioperasikan pada Juli 1994. Pembangunannya dilakukan bersamaan dengan pembangun Terminal Ferry Tanah Merah di Singapura. Bahkan boleh dibilang, kedua terminal ini merupakan anak kembar. Keduanya lahir dari kesepakatan pemerintah Indonesia dan Singapura untuk bersama-sama mengembangkan kawasan wisata Lagoi, di kawasan pantai Utara Pulau Bintan.
Bandar Betan Telani, Pulau Bintan - Provinsi Kepulauan Riau.
Walhasil, sejak dibuka, turis pun mengalir ke luar-masuk Terminal Ferry Bandar Bentan Telani. Ini tentu tak lepas dari paket utama kerjasama tadi. Yakni pembangunan berbagai resort di kawasan Utara Bintan, yang secara keseluruhan dikenal sebagai Bintan Beach International Resort (BBIR). BBIR ini diresmikan oleh Presiden Soeharto dan PM Goh Chok Tong pada Juli 1996. Adapun yang jadi pengelola BBIR adalah PT. Bintan Resort Cakrawala, anak perusahaan Gallant Venture Ltd. Kini di kawasan Utara Bintan itu terdapat setidaknya 7 resort: Bintan Lagoon Resort, Angsana Resort, Bayan Tree Resort, Ria Bintan Resort, Nirwana Resort, Club Med, dan Laluna Beach. Kesemua kawasan inilah, para turis dari Singapura berdatatangan lewat Terminal Ferry Bandar Bentan Telani. Sukses dengan Lagoi, kini tengah dibangun Terminal Ferry Berakit, di desa Berakit, kecamatan Gunung Kijang. Yang jadi target adalah wisatawan asal Malaysia, dan juga Singapura. Terminal ini diarahkan untuk didatangi wisatawan asing yang hendak menikmati resort dan pantai di Timur Bintan.
Tour de Bintan 2013, Pulau Bintan - Provinsi Kepulauan Riau.
Untuk menuju Bintan Resort kita harus masuk ke Batam dulu. Dari bandara internasional Hang Nadim Batam, pengunjung dapat naik taxi ke Port Punggur tempat penyeberangan feri ke Pulau Bintan. Perjalanan dengan taxi dari bandara ke port sekitar 30 menit. Setibanya di Punggur, kita harus ambil tiket di loket. Tiket ke Pulau Bintan berbeda-beda harganya sesuai lokasi yang akan dituju dan jenis boat yang digunakan. Apabila tujuannya ke Bintan Resort, maka harus naik feri yang ke Tanjung Uban atau ke Bandar Bentan Telani. Bandar Bentan Telani Ferry Terminal merupakan terminal feri yang ada tepat di dalam kawasan resort, dan merupakan terminal internasional karena penumpang dari  Singapura ke Bintan Resort ataupun sebaliknya pasti melalui terminal ini. Terminal feri di Tanjung Uban adalah terminal lokal. Tanjung Uban adalah sebuah kecamatan yang ada di Bintan. Apabila musim ombak dan angin –yang oleh orang-orang resort disebut ‘monsun’, dimana gelombang air laut cukup tinggi, penyeberangan feri dari Punggur ke Bandar Bentan Telani ditutup dan semua penumpang yang dari Batam ke Bintan Resort dialihkan penyeberangannya ke Tanjung Uban.
Bintan Lagoon Resort

Bintan Lagoon Resort
Bintan Lagoon Resort –yang menghadap ke Laut Cina Selatan merupakan tempat liburan tropis yang menyediakan akomodasi ber-AC dan sebuah kolam renang outdoor. Selain spa yang memanjakan, resor ini juga menawarkan 11 pilihan tempat bersantap. Kamar-kamar Bintan Lagoon Resort yang luas, didekorasi dengan warna-warna lembut dan dilengkapi TV kabel layar-datar, air kemasan gratis, dan kamar mandi pribadi dengan bathtub. Bahkan, setiap kamar juga dilengkapi brankas dan minibar.
Para pengunjung dapat memanjakan diri dengan pijat, perawatan wajah tubuh yang ditawarkan di Bintan Day Spa. Pengunjung juga dapat menikmati olahraga air yang meliputi: jet ski, berlayar, dan berselancar. Beragam oleh-oleh dapat dibeli di toko suvenir. Di Bintan Lagoon Resort, pengunjung dapat menikmati masakan Asia dan Barat yang disajikan di beberapa restorannya. Hiburan malam yang ditawarkan termasuk bar karaoke, lounge koktail, dan sebuah klub malam.
Treasure Bay, Pulau Bintan.
Treasure Bay Bintan
Dapat 'treasure' yang gede di Treasure Bay Bintan

Treasure Bay dan Nirwana Gardens
Sejak diresmikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono awal tahun 2011 lalu, mega proyek Treasure Bay, atau pembangunan Kawasan Wisata Terpadu kemudian diberi nama Pesona Lagoi Bintan. Kawasan wisata terpadu ini berlokasi di Lagoi, Kabupaten Bintan. Treasure Bay dibangun secara bertahap oleh konsorsium dari Malaysia (Landmark Holding Sdn Bhd) dengan nilai investasi sekitar Rp 24 triliun. Hasil pembangunan Treasure Bay Resort oleh Landmark Holding; pembangunan Crystal Lagoon Resort; dan tempat pendarataan pesawat terapung, akan meramaikan persaingan bisnis perhotelan di kawasan wisata Lagoi, Kabupaten Bintan.
Kebun Binatang Mini, Nirwana Resort - Pulau Bintan.
Mini Zoo, Nirwana Gardens Resort - Pulau Bintan.
Sedangkan kawasan wisata terpadu lainnya, adalah: Nirwana Gardens atau terkenal pula sebagai Bintan Resorts dengan lahan seluas 330 hektar dengan tumbuh-tumbuhan tropis yang rimbun dan pantai yang indah. Nirwana Gardens merupakan gabungan dari beberapa resort dan hotel. Di resort ini terdapat pula akomodasi, yang terdiri dari: Nirwana Resort Hotel; Mayang Sari Beach Resort; Nirwana Beach Club; Banyu Biru Villa; dan Indra Maya Villa, merupakan surga bagi pencinta olahraga kelautan yang mewah dan megah berikut privasi yang utama sebagai prioritas. Selain itu, juga ada: kebun binatang, pantai yang indah, convention room, dan outbond.
Hotel Sahid Bintan, Pulau Bintan - Provinsi Kepulauan Riau.
Peta Provinsi Kepulauan Riau

Sekedar Renungan
Ini gurindam pasal yang pertama
Barang siapa tiada memegang agama,
sekali-kali tiada boleh dibilangkan nama.
Barang siapa mengenal yang empat,
maka ia itulah orang ma'rifat
Barang siapa mengenal Allah,
suruh dan tegahnya tiada ia menyalah.
Barang siapa mengenal diri,
maka telah mengenal akan Tuhan yang bahari.
Barang siapa mengenal dunia,
tahulah ia barang yang terpedaya.
Barang siapa mengenal akhirat,
tahulah ia dunia mudarat.

Ini gurindam pasal yang kedua
Barang siapa mengenal yang tersebut,
tahulah ia makna takut.
Barang siapa meninggalkan sembahyang,
seperti rumah tiada bertiang.
Barang siapa meninggalkan puasa,
tidaklah mendapat dua temasya.
Barang siapa meninggalkan zakat,
tiadalah hartanya beroleh berkat.
Barang siapa meninggalkan haji,
tiadalah ia menyempurnakan janji.

Ini gurindam pasal yang ketiga:
Apabila terpelihara mata,
sedikitlah cita-cita.
Apabila terpelihara kuping,
khabar yang jahat tiadalah damping.
Apabila terpelihara lidah,
nescaya dapat daripadanya faedah.
Bersungguh-sungguh engkau memeliharakan tangan,
daripada segala berat dan ringan.
Apabila perut terlalu penuh,
keluarlah fi'il yang tiada senonoh.
Anggota tengah hendaklah ingat,
di situlah banyak orang yang hilang semangat
Hendaklah peliharakan kaki,
daripada berjalan yang membawa rugi.

Ini gurindam pasal yang keempat:
Hati kerajaan di dalam tubuh,
jikalau zalim segala anggota pun roboh.
Apabila dengki sudah bertanah,
datanglah daripadanya beberapa anak panah.
Mengumpat dan memuji hendaklah pikir,
di situlah banyak orang yang tergelincir.
Pekerjaan marah jangan dibela,
nanti hilang akal di kepala.
Jika sedikitpun berbuat bohong,
boleh diumpamakan mulutnya itu pekong.
Tanda orang yang amat celaka,
aib dirinya tiada ia sangka.
Bakhil jangan diberi singgah,
itupun perampok yang amat gagah.
Barang siapa yang sudah besar,
janganlah kelakuannya membuat kasar.
Barang siapa perkataan kotor,
mulutnya itu umpama ketur.
Di mana tahu salah diri,
jika tidak orang lain yang berperi.

Ini gurindam pasal yang kelima:
Jika hendak mengenal orang berbangsa,
lihat kepada budi dan bahasa,
Jika hendak mengenal orang yang berbahagia,
sangat memeliharakan yang sia-sia.
Jika hendak mengenal orang mulia,
lihatlah kepada kelakuan dia.
Jika hendak mengenal orang yang berilmu,
bertanya dan belajar tiadalah jemu.
Jika hendak mengenal orang yang berakal,
di dalam dunia mengambil bekal.
Jika hendak mengenal orang yang baik perangai,
lihat pada ketika bercampur dengan orang ramai.

Ini gurindam pasal yang keenam:
Cahari olehmu akan sahabat,
yang boleh dijadikan obat.
Cahari olehmu akan guru,
yang boleh tahukan tiap seteru.
Cahari olehmu akan isteri,
yang boleh menyerahkan diri.
Cahari olehmu akan kawan,
pilih segala orang yang setiawan.
Cahari olehmu akan abdi,
yang ada baik sedikit budi,

Ini gurindam pasal yang ketujuh:
Apabila banyak berkata-kata,
di situlah jalan masuk dusta.
Apabila banyak berlebih-lebihan suka,
itulah tanda hampir duka.
Apabila kita kurang siasat,
itulah tanda pekerjaan hendak sesat.
Apabila anak tidak dilatih,
jika besar bapanya letih.
Apabila banyak mencela orang,
itulah tanda dirinya kurang.
Apabila orang yang banyak tidur,
sia-sia sahajalah umur.
Apabila mendengar akan khabar,
menerimanya itu hendaklah sabar.
Apabila menengar akan aduan,
membicarakannya itu hendaklah cemburuan.
Apabila perkataan yang lemah-lembut,
lekaslah segala orang mengikut.
Apabila perkataan yang amat kasar,
lekaslah orang sekalian gusar.
Apabila pekerjaan yang amat benar,
tidak boleh orang berbuat onar.

Ini gurindam pasal yang kedelapan:
Barang siapa khianat akan dirinya,
apalagi kepada lainnya.
Kepada dirinya ia aniaya,
orang itu jangan engkau percaya.
Lidah yang suka membenarkan dirinya,
daripada yang lain dapat kesalahannya.
Daripada memuji diri hendaklah sabar,
biar pada orang datangnya khabar.
Orang yang suka menampakkan jasa,
setengah daripada syirik mengaku kuasa.
Kejahatan diri sembunyikan,
kebaikan diri diamkan.
Keaiban orang jangan dibuka,
keaiban diri hendaklah sangka.

Ini gurindam pasal yang kesembilan:
Tahu pekerjaan tak baik,
tetapi dikerjakan,
bukannya manusia yaituiah syaitan.
Kejahatan seorang perempuan tua,
itulah iblis punya penggawa.
Kepada segaia hamba-hamba raja,
di situlah syaitan tempatnya manja.
Kebanyakan orang yang muda-muda,
di situlah syaitan tempat berkuda.
Perkumpulan laki-laki dengan perempuan,
di situlah syaitan punya jamuan.
Adapun orang tua yang hemat,
syaitan tak suka membuat sahabat
Jika orang muda kuat berguru,
dengan syaitan jadi berseteru.

Ini gurindam pasal yang kesepuluh:
Dengan bapak jangan durhaka
supaya Allah tidak murka.
Dengan ibu hendaklah hormat
supaya badan dapat selamat.
Dengan anak janganlah lalai
supaya dapat naik ke tengah balai.
Dengan istri dan gundik janganlah alpa
supaya kemaluan jangan menerpa.
Dengan kawan hendaklah adil
supaya tangannya jadi kapil.

Ini gurindam pasal yang kesebelas:
Hendaklah berjasa,
kepada yang sebangsa.
Hendaklah jadi kepala,
buang perangai yang cela.
Hendaklah memegang amanat,
buanglah khianat.
Hendak marah,
dahulukan hujjah.
Hendak dimalui,
jangan memalui.
Hendak ramai,
murahkan perangai.

Ini gurindam pasal yang kedua belas:
Raja mufakat dengan menteri,
seperti kebun berpagarkan duri.
Betul hati kepada raja,
tanda jadi sebarang kerja.
Hukum adil atas rakyat,
tanda raja beroleh inayat.
Kasihkan orang yang berilmu,
tanda rahmat atas dirimu.
Hormat akan orang yang pandai,
tanda mengenal kasa dan cindai.
Ingatkan dirinya mati,
itulah asal berbuat bakti.
Akhirat itu terlalu nyata,
kepada hati yang tidak buta.





***

1 komentar:

  1. Lengkap banget info nya mbak. Trm kasih ya..
    Gak sabar mau ke bintan

    BalasHapus