Meningkatkan Wawasan Dengan Berbagi Pengetahuan

Minggu, 29 Desember 2013

Kayuh Baimbai di Kota Seribu Sungai




Warga Banjarmasin memang merupakan masyarakat yang suka bekerja keras, dan suka berkerja sama atau bersama-sama dalam menyelesaikan pekerjaan. Mereka enak diajak bicara, karena pada dasarnya suka ngobrol sebagaimana terlihat dari kebiasaan ”mawarung”, dan juga tercermin dari tradisi mamanda, balamut, dan madihin yang lebih berorientasi budaya lisan. Selain itu, sungai begitu erat dengan kehidupan “urang Banjar” ini.
Alun-alun Martapura, Kabupaten Banjar - Kalimantan Selatan.

Kota Banjarmasin merupakan sebuah ‘kota delta, atau ‘kota kepulauan’ karena terdiri dari sedikitnya 25 buah pulau kecil (delta) –diantaranya: Pulau Tatas, Pulau Kelayan, Pulau Rantauan Keliling, Pulau Insan dan lain-lain yang merupakan bagian-bagian kota yang dipisahkan oleh sungai-sungai. Kota Banjarmasin -yang dikenal dengan julukan: Kota Seribu Sungai, ditetapkan sebagai salah satu dari 10 ikon kota pusaka di Indonesia. Selain itu, Kota Banjarmasin beserta Kota Pekalongan dan Solo ditetapkan sebagai Kota Teladan oleh UN Habitat. Kota ini terletak di tepian Timur Sungai Barito dan dibelah oleh Sungai Martapura yang berhulu di Pegunungan Meratus.
Martapura, Kalimantan Selatan.
Karakter urang Banjar tercermin dalam kalimat: Kayuh Baimbai, secara harfiah berasal dari kata: "Kayuh" –Dayung atau Mendayung, sementara "Baimbai" –Bersama-sama. Berarti: mendayung secara bersama-sama. Istilah ini sering digunakan dalam masyarakat Banjar untuk merefleksikan suatu bentuk kerjasama untuk mencapai suatu tujuan.
Secara garis besar, masyarakatnya terbagi atas 3 kelompok besar: Suku Banjar, Suku Dayak, dan Suku pendatang (Jawa, Bugis, Madura, dan lain-lain). Pangeran Antasari dalam Perang Banjar (1859-1905), pernah berwasiat: ”Agar Urang Banjar Jangan Suka Bacakut Papadaan”. Wasiat ini dipegang teguh oleh urang Banjar. Meski terdapat perbedaan pada masing-masing kelompok, tetapi di sini jarang ditemukan konflik-konflik yang mengatasnamakan suku-suku.
Pelabuhan Lok Baintan

Pasar Terapung Lok Baintan
Perjalanan dari Bandara –yang berada di pal 26 atau di km 26 Kabupaten Banjar Baru, menuju ibukota Banjarmasin –berada di pal 1 atau di km 1 membutuhkan waktu sekitar empat puluh menit. Di depan pelabuhan Mesjid Rayapada sebuah dermaga kayu sederhana di pinggiran Kota Banjarmasin, naik klotok –perahu motor. Mulailah perjalanan  menyusuri Sungai Martapura menuju ‘pasar terapung’ Lok Baintan di Sungai Tabuk, Kabupaten Banjar.
Sungai Martapuranama aslinya: Sungai Kayutangi atau Sungai Banjar Kecil, adalah anak Sungai Barito yang muaranya terletak di Kota Banjarmasin dan di hulunya terdapat Kota Martapura –yang merupakan ibukota Kabupaten Banjar. Nama sungai ini, diambil dari nama Kota Martapura –yang terletak di sebelah hulu Kota Banjarmasin. Nama Martapura sendiri, diberikan oleh raja Banjar ke-4 Sultan Mustain Billah sebagai ibukota yang baru didirikan kira-kira pada tahun 1630 setelah dipindah dari Banjarmasin ke kawasan Kayu Tangi –terletak di sebelah hulu. Karena itu, nama kuno sungai Martapura adalah Sungai Kayutangi. Nama lainnya yang dahulu digunakan adalah: Sungai Tatas, mengacu kepada delta Pulau Tatas, daerah yang pada 13 Agustus 1787 menjadi milik VOC-Belanda (kotta-Blanda) dan sekarang merupakan pusat Kota Banjarmasin modern. Dengan demikian, nama lain Kota Banjarmasin adalah Kota Tatas. Menurut Hikayat Banjar, di tepi sungai inilah Kerajaan Banjarmasih mendirikan Bandarsekarang sering disebut Bandar Patih Masih/Bandar Masih, bukan di tepi Sungai Barito. Bandar tersebut terletak di sebelah hulu dari muara Sungai Kelayan, dimana pada lokasi tersebut terdapat Sungai Palabuhan.
Masjid Raya Sabilal Muhtadin di Kota Banjarmasin - Kalsel.
Tepian Sungai Martapura didekat Masjid Raya Sabilal Muhtadin
Tepian Sungai Martapura dekat Masjid Raya Sabilal Muhtadin (dahulu: Benteng Tatas) di Kota Banjarmasin.
Perahu klotok membawa kita menyusuri sungai yang membelah Kota Banjarmasin ini, menjauhi kota ke arah hulu. Dalam perjalanan tampak rumah-rumah penduduk yang berjejer di sepanjang tepi sungai. Terdapat juga beberapa tempat penggilingan padi, masjid, rumah penangkaran burung walet, dan warung klontong. Rumah-rumah penduduk yang berada di sisi kanan pelintasan –lebih dekat ke pusat Kota Banjarmasin, umumnya didirikan membelakangi sungai. Sebaliknya, rumah-rumah penduduk yang berada di sisi kiri, umumnya menghadap ke sungai. Kondisi ini, menandakan bahwa penduduk yang berada di sisi kanan telah banyak menggunakan alat transportasi darat.
Pasar Terapung Lok Baintan, Kalimantan Selatan.
Pusat berkumpulnya para pedagang terletak di dekat sebuah pelabuhan yang diberi papan bertuliskan “Pelabuhan Lok Baintan”. Letaknya di Desa Lok Baintan Sungai Pinang; Kecamatan Sungai Tabuk; Kabupaten Banjar, berdekatan dengan sebuah jembatan gantung kecil –hanya bisa dilalui orang dan sepeda motor, yang melintasi sungai. Di bawah jembatan itu, perahu-perahu berkumpul, berdempet-dempetan, berinteraksi dan bertransaksi. Karena berada di atas arus sungai, maka pasar terapung ini bergerak ke arah hilir. Ketika melakukan transaksi jual-beli, perahu-perahu akan dibiarkan bergerak terbawa arus. Dan setelah transaksi selesai, baru kemudian dikayuh kembali ke titik kumpul semula. Pola iramanya, seperti tidak menentu –tapi para pedagang di perahu-perahu ini, seperti kompak untuk tetap membentuk kerumunan, baik ketika terbawa ke hilir atau ketika mengayuh kembali ke hulu. Konon, pasar terapung ini sudah ada sejak zaman Kesultanan Banjar. Karena berada di sungai utama Martapura, maka pasar terapung ini disebut juga dengan nama: Pasar Terapung Sungai Martapura.
Jembatan Gantung Lok Baintan
Perempuan-perempuan perkasa ini, mendayung sejak Shubuh  dari berbagai desa di sekitar Sungai Martapura, dan menjual hasil bumi mereka di Lok Baintan. Mereka berasal dari berbagai anak Sungai Martapura, seperti: Sungai Lenge, Sungai Bakung, Sungai Paku Alam, Sungai Saka Bunut, Sungai Madang, Sungai Tanifah, dan Sungai Lok Baintan. Berdatangan setelah sholat Shubuh, dan mulai bubar sekitar pukul 9 pagi Waktu Indonesia bagian Tengah. Beberapa di antara mereka membawa serta anak-anak balita, tapi umumnya seorang diri dalam satu perahu. Ada aturan tidak tertulis bagi masyarakat yang tinggal di tepi sungai ini. Para wanitanya berjualan di pasar,  para lelakinya bertani dan menjadi nelayan atau memancing ikan di sungai. Pembagian kerja antara perempuan dan laki-laki semacam ini, mungkin merupakan suatu ‘kelaziman’ dalam masyarakat agraris. Rupanya, emansipasi sudah menyentuh tepi Sungai Martapura ini. Mereka menggunakan topi anyaman daun bundar –berdiameter sekitar 50-60 cm, untuk berlindung dari sinar matahari atau hujan. Tampak juga beberapa perempuan menggunakan sejenis pupur wajah. Sangat jarang perahu dagangan yang dibawa oleh laki-laki.
Pasar Terapung Lok Baintan, Kabupaten Banjar - Provinsi Kalimantan Selatan
Pasar terapung Lok Baintan ini, tergolong “pasar induk” –dalam pengertian: jual beli dilakukan dalam proporsi besar untuk kembali dijual ke anak-anak sungai. Meski demikian, di sini tidak ada retribusi –atau iuran sejenis lainnya yang dipungut oleh pemerintah atau oleh masyarakat sendiri.
Juga banyak terdapat buah-buahan segar, seperti: mangga, jeruk khas Banjar –limau, pisang, pepaya, rambutan, dan lainnya. Sementara yang dijual dalam skala yang lebih kecil, adalah: ikan atau hasil laut lainnya, kue-kue tradisional, serta beberapa jenis produk tekstil seperti pakaian, kain, dan tas. Umumnya sistem barter terjadi antara sesama pedagang, sedangkan penggunaan uang ketika bertransaksi dengan pembeli pendatang. Komoditas dagangan yang dibarter adalah hasil bumi berupa sayur mayur dan buah-buahan. Besaran dan keberimbangan jumlah hasil barter, tergantung kesepakatan antarkedua belah pihak. Jika sepakat, maka masing-masing akan mendapatkan barang sesuai keinginan, dan selanjutnya digunakan untuk keperluan pribadi di rumah.
Sarapan di perahu klotok
Di Lok Baintan, kita dapat menikmati akitivitas pasar tradisional serta keramahan masyarakatnya. Kita juga dapat berbelanja, mencicipi hasil kebun yang mereka jual atau kue-kue tradisional yang mereka jajakan. Biasanya, ada pula klotok khusus tempat makan, dimana kita dapat mencicipi kue dan soto Banjar, serta bersantai minum kopi –sembari menikmati aktivitas pasar. Atau sarapan makanan khas Kalsel lainnya yang ada di pinggir sungai –sekitar daerah Sungai Jingah, seperti: soto Bang Amat, soto Yana-Yani atau soto Bawah Jembatan (SBJ). Bila ingin merasakan sensasi naik jukung, kita bisa ikut di atas jukung pedagang yang ada di sana.
Jika kita menuju ke Lok Baintan sejak pagi buta, kita dapat melihat iring-iringan klotok atau jukung –perahu kecil dengan mesin yang memuat beragam barang dagangan yang akan diperjual belikan di lokasi pasar.
Kedepannya, selain pasar terapung, juga akan dikembangkan agro wisata –setelah mengunjungi pasar terapung, para pelancong bisa melanjutkan dengan wisata petik buah jeruk langsung dari pohonnya. Tetapi yang paling mendesak adalah upaya menjaga kelestarian pasar terapung di sana, salah satunya dengan tidak mengijinkan berdirinya pasar darat di Desa Lok Baintan.

Menjelang siang hari, sudah tidak ada aktivitas 'Perdagangan' di Lok Baintan.
Masjid Agung Al Karomah Martapura
Masjid Agung Al Karomah adalah masjid besar yang terletak di Kota Martapura, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan dan merupakan masjid terbesar di Kalimantan Selatan. Masjid ini juga merupakan markah tanah dari Kota Martapura dan mudah diakses dari seluruh kota di Kalimantan Selatan karena terletak di Jalan Ahmad Yani yang merupakan jalan utama –jalan nasional antar kota, terutama dari Kalimantan Timur –arah Utara hingga Kota Banjarmasin.
Sebagai pusat Kerajaan Banjar, Martapura tercatat menjadi saksi 12 sultan yang memerintah. Pada waktu itu masjid berfungsi sebagai: tempat peribadatan, dakwah Islamiyah, integrasi umat Islam dan markas atau benteng pertahanan para pejuang dalam menentang Belanda. Akibat pembakaran Kampung Pasayangan dan Masjid Martapura, muncul keinginan membangun Masjid yang lebih besar. Tahun 1280 Hijriyah (1863 M), pembangunan masjid pun dimulai.
Masjid Agung Martapura 'Al Karomah'
Masjid Agung Al Karomah, dulunya bernama adalah Masjid Jami’ Martapura, yang didirikan oleh panitia pembangunan masjid yaitu HM. Nasir, HM. Taher (Datu Kaya), HM. Apip (Datu Landak). Kepanitiaan ini didukung oleh Raden Tumenggung Kesuma Yuda dan Mufti HM Noor.
Menurut riwayatnya, Datuk Landak dipercaya untuk mencari kayu Ulin sebagai sokoguru masjid, ke daerah Barito, Kalimantan Tengah. Setelah tiang ulin berada di lokasi bangunan masjid, lalu disepakati tepat 10 Rajab 1315 H (5 Desember 1897 M) dimulailah pembangunan Masjid Jami’ tersebut. Secara teknis bangunan masjid tersebut adalah bangunan dengan struktur utama dari kayu ulin dengan atap sirap, dinding dan lantai papan kayu ulin. Seiring dengan perubahan masa dari waktu ke waktu, masjid tersebut selalu di renovasi –tapi struktur utamanya tidak berubah. Malam Senin 12 Rabiul Awal 1415 H dalam perayaan hari kelahiran Nabi Besar Muhammad SAW, Masjid Jami’ Martapura diresmikan menjadi Masjid Agung Al Karomah. Saat ini Masjid Agung Al Karomah berdiri megah dengan konstruksi beton dan rangka atapnya terbuat dari baja stainless, yang terangkai dalam struktur space frame. Untuk kubahnya dilapisi dengan bahan enamel.

Pulau Kembang
Pulau Kembang adalah sebuah delta yang terletak di tengah Sungai Barito yang termasuk di dalam wilayah administratif Kecamatan Alalak, Kabupaten Barito Kuala, Provinsi Kalimantan Selatan. Pulau Kembang terletak di sebelah Barat Kota Banjarmasin, ditetapkan sebagai hutan wisata berdasarkan SK. Menteri Pertanian No. 788/Kptsum12/1976 dengan luas 60 Ha. Pulau Kembang merupakan habitat bagi kera ekor panjang (monyet) dan beberapa jenis burung. Kawasan pulau Kembang juga merupakan salah satu obyek wisata yang berada di dalam kawasan hutan di Kabupaten Barito Kuala.
Di dalam kawasan hutan wisata ini terdapat bangunan Klenteng dan Altar yang diperuntukkan sebagai tempat meletakkan sesaji bagi "penjaga" pulau Kembang yang dilambangkan dengan dua buah arca berwujud kera berwarna putih –hanoman, oleh masyarakat dari etnis Tionghoa-Indonesia yang mempunyai kaul atau nazar tertentu. Sesajen seperti: pisang; telur; nasi ketan; mayang-pinang; dan beberapa jenis kembang. Seekor kambing jantan yang tanduknya dilapisi emas biasanya dilepaskan ke dalam hutan pulau Kembang apabila sebuah permohonan berhasil atau terkabul. Oleh karena sering digunakan untuk tempat berhajat dan menabur kembang, maka pulau tersebut lebih terkenal dengan nama Pulau Kembang.
Wisata Alam 'Pulau Kembang', Kabupaten Barito Kuala - Provinsi Kalimantan Selatan.
Menurut cerita penduduk setempat, Pulau Kembang ini dulunya merupakan sebuah kapal Cina yang bernama "Law Kem Bang" yang tersesat dan kemudian dihancurkan oleh orang-orang Biaju pada tahun 1750-an atas perintah Sultan Banjar. Lambat laun kapal tersebut ditumbuhi pepohonan dan berubahlah menjadi sebuah pulau serta dihuni oleh sekelompok kera. Orang-orang desa yang berada di sekitar Pulau Kembang ini menganggap bahwa kera-kera tersebut merupakan penjelmaan makhluk halus yang memakai sarungan kera. Kelompok kera tersebut dipimpin oleh seekor kera yang sangat besar berwarna putih bernama si Anggur. Dari Law Kem Bang inilah kemudian menjadi Pulau Kembang. Versi lainnya, Pulau Kembang berasal dari kapal Inggris yang dihancurkan oleh orang Biaju pada tahun 1750-an atas perintah Sultan Banjar. Puing-puing bekas kapal tersebut lambat laun ditumbuhi pepohonan dan berubah menjadi sebuah pulau yang kemudian didiami sekelompok kera. Kera-kera di kawasan  ini yang berjumlah ribuan, sangat akrab dengan para pengunjung. Biasanya ketika para wisatawan datang berkunjung, kera-kera tersebut banyak yang menunggu di dermaga, menunggu para wisatawan memberi mereka makanan seperti pisang, kacang, dan sebagainya.
Pulau Kembang ini ditempati oleh ratusan –bahkan ribuan monyet dan beberapa jenis unggas (burung). Bila beruntung, pengunjung dapat bertemu dengan salah satu spesies monyet yang menjadi maskot fauna Kalimantan Selatan; yakni: Bekantan (Nasalis Larvatus). Monyet ini berhidung panjang; berambut cokelat kemerah-merahan; dan memiliki sifat pemalu. Satu hal yang harus diingat, jangan lupa membeli makanan (pisang atau kacang-kacangan) di Pasar Terapung untuk dibagikan kepada monyet-monyet di Pulau Kembang ini.
Tidak sulit untuk berkunjung ke pulau ini, kawasan ini berjarak sekitar 1,5 km dari Kota Banjarmasin. Dari Pasar Terapung di Sungai Barito, tinggal menyewa perahu (perahu klotok sewaan) dari Sungai Kuin Utara. Kita bisa melakukan perjalanan mengelilingi Pasar Terapung dan berkunjung ke Pulau Kembang, waktu yang dibutuhkan untuk sampai ke lokasi sekitar 15 menit.



***

Sabtu, 28 Desember 2013

Lampung, Sai Bumi Ruwa Jurai



Lampung merupakan salah satu provinsi di Sumatera yang di tinggali oleh berbagai macam suku budaya. Masyarakat asli dan pendatang dapat hidup dengan selaras  meskipun berbeda latar belakang budaya, tidak memisahkan mereka. Masyarakat Lampung sangat menghormati dan menghargai adat-adat yang dimiliki oleh suku pendatang, bahkan tak enggan untuk berbaur dengan para suku pendatang. Hal inilah yang menyebabkan para suku pendatang merasa kerasan tinggal di tanah ‘Sai Bumi Ruwa Jurai’ (satu bumi, dua penghuni, yaitu penduduk asli dan pendatang) tersebut. Pribumi dan pendatang menjadi ‘Ragom Gawi’, yakni: kompak bekerja bersama-sama dalam pengabdian terhadap negara, bangsa dan masyarakat (gotong royong).
Kota Bandar Lampung, Provinsi Lampung.

Provinsi Lampung dengan ibukota di Bandar Lampung –merupakan gabungan dari kota kembar Tanjungkarang dan Telukbetung, adalah sebuah provinsi paling Selatan di Pulau Sumatera. Di sebelah Utara berbatasan dengan Bengkulu dan Sumatera Selatan, di sebelah Barat berbatasan dengan Selat Sunda, dan di sebelah Timur dengan Laut Jawa. Secara Geografis, Provinsi Lampung terletak pada kedudukan antara 103040' hingga105050' Bujur Timur, dan antara 3045' hingga 6045' Lintang Selatan dengan wilayah seluas 35.376,50 km².
Beberapa pulau termasuk dalam wilayah Provinsi Lampung –yang sebagian besar, terletak di Teluk Lampung, di antaranya: Pulau Darot, Pulau Legundi, Pulau Tegal, Pulau Sebuku, Pulau Ketagian, Pulau Sebesi, Pulau Poahawang, Pulau Krakatau, Pulau Putus dan Pulau Tabuan. Ada juga Pulau Tampang dan Pulau Pisang yang masuk ke wilayah Kabupaten Lampung Barat.
Keadaan alamnya: di sebelah Barat dan Selatan –sepanjang pantai, merupakan daerah yang berbukit-bukit sebagai sambungan dari jalur Bukit Barisan di Pulau Sumatera. Di tengah-tengahnya, merupakan dataran rendah. Sedangkan ke dekat pantai di sebelah Timur –sepanjang tepi Laut Jawa ke Utara, merupakan perairan yang luas.
Peta Provinsi Lampung
Secara administratif, Provinsi Lampung terdiri dari: 13 kabupaten dan 2 kota. Kabupaten/Kota tersebut, adalah: Kabupaten Lampung Barat –ber-ibukota di Liwa; Kabupaten Lampung Barat Selatan –ber-ibukota di Kalianda; Kabupaten Lampung Tengah –ber-ibukota di Gunung Sugih; Kabupaten Lampung Timur –ber-ibukota di Sukadana; Kabupaten Lampung Utara –ber-ibukota di Kotabumi; Kabupaten Mesuji –ber-ibukota di Wiralaga Mulya; Kabupaten Pesawaran –ber-ibukota di Gedong Tataan; Kabupaten Pringsewu –ber-ibukota di Pringsewu; Kabupaten Tanggamus –ber-ibukota di Kota Agung; Kabupaten Tulang Bawang –ber-ibukota di Menggala; Kabupaten Tulang Bawang Barat –ber-ibukota di Panaragan Jaya; Kabupaten Way Kanan –ber-ibukota di Blambangan Umpu; dan Kabupaten Pesisir Barat –ber-ibukota di Krui. Sementara itu, 2 kotanya, adalah: Kota Bandar Lampung dan Kota Metro.
Bandar Udara Radin Inten II, Provinsi Lampung.
Provinsi Lampung memiliki bandar udara bertaraf internasional, yaitu: Bandar Udara Radin Inten II, yang terletak di Desa Branti Raya, Kecamatan Natar, Kabupaten Lampung Selatan. Bandara ini sebelumnya bernama Bandara Branti.
Selain itu, di Provinsi Lampung terdapat Pelabuhan Bakauheni –merupakan sebuah pelabuhan penyeberangan yang terletak di Kecamatan Bakauheni, Kabupaten Lampung Selatan. Terletak di ujung Selatan dari Jalan Raya Lintas Sumatera, Pelabuhan Bakauheni menghubungkan Sumatera dengan Jawa melalui perhubungan laut. Rata-rata, durasi perjalanan yang diperlukan antara Bakauheni – Merak (Provinsi Banten) atau sebaliknya dengan kapal feri adalah sekitar 2 jam.
Pelabuhan Penyeberangan Bakauheni, Provinsi Lampung.

Riwayat
Provinsi Lampung lahir pada tanggal 18 Maret 1964, dengan ditetapkannya Peraturan Pemerintah Nomor 3/1964 –yang kemudian menjadi Undang-undang Nomor 14 tahun 1964. Sebelum itu, Provinsi Lampung merupakan Karesidenan yang tergabung dengan Provinsi Sumatera Selatan.
Lampung pernah menjadi wilayah kekuasaan Kerajaan Tarumanagara dan Kerajaan Sunda sampai abad ke-16. Waktu Kesultanan Banten menghancurkan Pakuan Pajajaran –ibukota Kerajaan Sunda, maka Sultan Hasanuddin –sultan Banten yang pertama, mewarisi wilayah tersebut dari Kerajaan Sunda. Hal ini dijelaskan dalam buku The Sultanate of Banten tulisan Claude Guillot pada halamaan 19 sebagai berikut: “From the beginning it was abviously Hasanuddin's intention to revive the fortunes of the ancient kingdom of Pajajaran for his own benefit. One of his earliest decisions was to travel to southern Sumatra, which in all likelihood already belonged to Pajajaran, and from which came bulk of the pepper sold in the Sundanese region”.
Tatkala Banten dibawah pimpinan Sultan Ageng Tirtayasa (1651-1683), Banten berhasil menjadi pusat perdagangan yang dapat menyaingi VOC di perairan Jawa, Sumatera dan Maluku. Sultan Ageng ini dalam upaya meluaskan wilayah kekuasaan Banten, mendapat hambatan karena dihalang-halangi VOC yang bercokol di Batavia. Putra Sultan Ageng Tirtayasa yang bernama Sultan Haji diserahi tugas untuk menggantikan kedudukan mahkota kesultanan Banten. Dengan kejayaan Sultan Banten pada saat itu, tentu saja tidak menyenangkan VOC –oleh karenanya, VOC selalu berusaha untuk menguasai kesultanan Banten. Usaha VOC ini berhasil dengan jalan membujuk Sultan Haji sehingga berselisih paham dengan ayahnya Sultan Ageng Tirtayasa. Dalam perlawanan menghadapi ayahnya sendiri, Sultan Haji meminta bantuan VOC dan sebagai imbalannya Sultan Haji akan menyerahkan penguasaan atas Daerah Lampung kepada VOC. Akhirnya pada tanggal 7 April 1682, Sultan Ageng Tirtayasa dapat disingkirkan –dan Sultan Haji pun dinobatkan menjadi Sultan Banten. Dari perundingan-perundingan antara VOC dengan Sultan Haji menghasilkan sebuah piagam dari Sultan Haji tertanggal 27 Agustus 1682 yang isinya antara lain menyebutkan bahwa sejak saat itu pengawasan perdagangan rempah-rempah atas Daerah Lampung diserahkan oleh Sultan Banten kepada VOC yang sekaligus memperoleh monopoli perdagangan di Daerah Lampung.
Kantor Pemerintah Kota Bandar Lampung, Provinsi Lampung.
Pada tanggal 29 Agustus 1682, iring-iringan armada VOC dan Banten membuang sauh di Tanjung Tiram. Armada ini dipimpin oleh Vander Schuur dengan membawa surat mandat dari Sultan Haji dan ia mewakili Sultan Banten. Ekspedisi Vander Schuur yang pertama ini, ternyata tidak berhasil dan ia tidak mendapatkan lada yang dicari-carinya. Agaknya perdagangan langsung antara VOC dengan Lampung yang dirintisnya, mengalami kegagalan, karena ternyata tidak semua penguasa di Lampung langsung tunduk begitu saja kepada kekuasaan Sultan Haji yang bersekutu dengan kompeni. Para penguasa Lampung masih mengakui Sultan Ageng Tirtayasa sebagai Sultan Banten dan menganggap kompeni, tetap sebagai musuh. Sementara itu timbul keragu-raguan dari VOC apakah benar Lampung berada dibawah Kekuasaan Sultan Banten. Kemudian baru diketahui, bahwa penguasaan Banten atas Lampung tidaklah mutlak. Penempatan wakil-wakil Sultan Banten di Lampung yang disebut "Jenang" –Gubernur, hanyalah dalam mengurus kepentingan perdagangan hasil bumi (lada). Sedangkan, penguasa-penguasa Lampung asli yang terpencar-pencar pada tiap-tiap desa atau kota yang disebut "Adipati" secara hirarkis tidak berada dibawah koordinasi penguasaan Jenang. Jadi, penguasaan Sultan Banten atas Lampung adalah dalam hal garis pantai saja dalam rangka menguasai monopoli arus keluarnya hasil-hasil bumi terutama lada. Dengan demikian, jelaslah hubungan Banten-Lampung adalah dalam hubungan saling membutuhkan satu dengan lainnya.
Selanjutnya pada masa Thomas Stamford Raffles dari Inggris berkuasa pada tahun 1811, ia menduduki Daerah Semangka dan tidak mau melepaskan Daerah Lampung kepada Belanda –karena Raffles beranggapan bahwa Lampung bukanlah jajahan Belanda. Namun setelah Raffles meninggalkan Lampung, baru kemudian tahun 1829 ditunjuk Residen Belanda untuk Lampung.
Dalam pada itu, sejak tahun 1817, posisi Radin Inten semakin kuat. Oleh karena itu, Belanda merasa khawatir dan mengirimkan ekspedisi kecil dipimpin oleh Asisten Residen Krusemen yang menghasilkan persetujuan bahwa: Radin Inten memperoleh bantuan keuangan dari Belanda sebesar f. 1.200 setahun; Kedua saudara Radin Inten masing-masing akan memperoleh bantuan pula sebesar f. 600 tiap tahun; dan Radin Inten tidak diperkenankan meluaskan lagi wilayah selain dari desa-desa yang sampai saat itu berada dibawah pengaruhnya.
Tetapi persetujuan itu tidak pernah dipatuhi oleh Radin Inten, dan ia tetap melakukan perlawanan-perlawanan terhadap Belanda. Pada tahun 1825, Belanda memerintahkan Leliever untuk menangkap Radin Inten. Namun dengan cerdik, Radin Inten dapat menyerbu benteng Belanda dan membunuh Liliever beserta anak buahnya. Belanda tidak dapat berbuat apa-apa terhadap peristiwa itu –karena pada saat yang bersamaan, Belanda sedang menghadapi perang Diponegoro (1825-1830). Tahun 1825, Radin Inten meninggal dunia dan digantikan oleh Putranya Radin Imba Kusuma.
Setelah Perang Diponegoro selesai pada tahun 1830, Belanda menyerbu Radin Imba Kusuma di Daerah Semangka. Selanjutnya, pada tahun 1833, Belanda menyerbu benteng Radin Imba Kusuma –tetapi tidak berhasil mendudukinya. Baru pada tahun 1834 –setelah Asisten Residen diganti oleh perwira militer Belanda dan dengan kekuasaan penuh, maka benteng Radin Imba Kusuma berhasil dikuasai. Radin Imba Kusuma menyingkir ke daerah Lingga, namun penduduk daerah Lingga ini menangkapnya dan menyerahkan kepada Belanda. Radin Imba Kusuma kemudian dibuang ke Pulau Timor.
Meskipun demikian, rakyat di pedalaman tetap melakukan perlawanan, “Jalan Halus” dari Belanda –dengan memberikan hadiah-hadiah kepada pemimpin-pemimpin perlawanan rakyat Lampung, ternyata tidak membawa hasil. Belanda tetap merasa tidak aman, sehingga membentuk tentara sewaan –yang terdiri dari orang-orang Lampung sendiri untuk melindungi kepentingan-kepentingan Belanda di daerah Telukbetung dan sekitarnya. Perlawanan rakyat yang digerakkan oleh putra Radin Imba Kusuma sendiri yang bernama Radin Inten II tetap berlangsung terus, sampai akhirnya Radin Inten II ini ditangkap dan dibunuh oleh tentara-tentara Belanda yang khusus didatangkan dari Batavia. Sejak itu, Belanda mulai leluasa menancapkan kakinya di Daerah Lampung. Perkebunan mulai dikembangkan, yaitu: penanaman kaitsyuk, tembakau, kopi, karet dan kelapa sawit. Untuk kepentingan pengangkutan terhadap hasil-hasil perkebunan itu, maka tahun 1913 dibangun jalan kereta api dari Telukbetung menuju Palembang. Hingga menjelang Indonesia merdeka –tanggal 17 Agustus 1945 dan periode perjuangan fisik setelah itu, putra Lampung tidak ketinggalan ikut terlibat dan merasakan betapa pahitnya perjuangan melawan penindasan penjajah yang datang silih berganti. Sehingga pada akhirnya, pada tahun 1964 Keresidenan Lampung ditingkatkan menjadi Daerah Tingkat I Provinsi Lampung.
Kejayaan Lampung sebagai sumber lada hitam pun mengilhami para senimannya sehingga tercipta lagu Tanoh Lada. Bahkan, ketika Lampung diresmikan menjadi provinsi pada 18 Maret 1964, lada hitam menjadi salah satu bagian lambang daerah itu. Namun sayang, saat ini kejayaan tersebut telah pudar.

Budaya Tradisional
Sai Bumi Ruwa Jurai –atau, Sang Bumi Ruwa Jurai, memiliki arti: di dalam satu bumi (yakni, Lampung) terdapat dua cabang (yakni, Pesisir dan Pepadun, atau penduduk pendatang dan penduduk asli). Hal ini menjadi keunikan tersendiri bagi Provinsi Lampung, karena meskipun terdapat ragam suku yang tinggal di sana, mereka tetap bisa berbaur satu sama lain dengan tetap mempertahankan budaya dari tempat asalnya. Bahkan di ibukota Provinsi Lampung, yaitu: Kota Bandar Lampung, mereka ber ‘Ragom Gawi’ - kompak bahu membahu mengerjakan segala sesuatu secara bergotong royong. RAGOM, berarti: kompak, bersatu atau bersama-sama. GAWI, berarti: kerja melaksanakan tugas pengabdian. Jadi, Ragom Gawi adalah: kompak bekerja bersama-sama dalam pengabdian terhadap masyarakat, bangsa, dan negara. Beberapa budaya tradisional dari masyarakat Lampung, adalah:
Menenun Kain Tapis, Lampung.
Kain Tapis adalah pakaian wanita Suku Lampung yang berbentuk kain sarung terbuat dari tenun benang kapas dengan motif atau hiasan bahan sugi, benang perak atau benang emas dengan sistem cucuk –sulam. Jenis tenun ini biasanya digunakan pada bagian pinggang ke bawah berbentuk sarung yang terbuat dari benang kapas dengan motif seperti motif alam, flora dan fauna yang disulam dengan benang emas dan benang perak. Tapis Lampung termasuk kerajian tradisional karena peralatan yang digunakan dalam membuat kain dasar dan motif-motif hiasnya masih sederhana dan dikerjakan oleh pengrajin. Kerajinan ini dibuat oleh wanita, baik ibu rumah tangga maupun muli-muli –gadis-gadis yang pada mulanya untuk mengisi waktu senggang dengan tujuan untuk memenuhi tuntutan adat istiadat yang dianggap sakral. Kain Tapis saat ini diproduksi oleh pengrajin dengan ragam hias yang bermacam-macam sebagai barang komoditi yang memiliki nilai ekonomis yang cukup tinggi.
Tari Sembah, Lampung.
Tari Sembah –sudah dibakukan menjadi Sigeh Pengunten dan Tari Melinting. Ritual Tari Sembah biasanya diadakan oleh masyarakat lampung untuk menyambut dan memberikan penghormatan kepada para tamu atau undangan yang datang –dapat dikatakan sebagai sebuah tarian penyambutan. Selain sebagai ritual penyambutan, Tari Sembah pun kerap kali dilaksanakan dalam upacara adat pernikahan masyarakan Lampung.
Nuwo Sesat, rumah tradisional Lampung.
Nuwo Sesat merupakan rumah tradisional adat Lampung, yang memiliki ciri khas seperti: berbentuk panggung, atap terbuat dari anyaman ilalang, serta terbuat dari kayu dikarenakan untuk menghindari serangan hewan dan lebih kokoh bila terjadi gempa bumi.

Destinasi Wisata
Pantai Duta Wisata di Kota Bandar Lampung
Objek Wisata di Kota Bandar Lampung:
Pantai Duta Wisata - Jl.RE. Marthadinata
Pantai Tirtayasa - Jl. RE. Marthadinata
Pantai Puri Gading - Jl. RE. Marthadinata
Taman Wisata Bumi Kedatun - Jl. Wan Abdurahman
Wisata Alam Batu Putu - Jl. Wan Abdurahman
Taman Kupu-kupu - Jl. Wan Abdurahman
Taman Dipangga - Jl. WR. Supratman
Nuwo Olok Gading - Jl. Basuki Rahmat
Taman Hutan Kota - Jl. Soekarno Hatta
Lembah Hijau - Jl. Wan Abdurahman
Waduk Dam Raman di Kota Metro

Objek Wisata di Kota Metro:
Waduk Dam Raman - sebelah Utara Kota Metro
Seminung Lumbok Resort di Kabupaten Lampung Barat

Objek Wisata di Kabupaten Lampung Barat:
Terpadu Lumbok Ranau (Seminung Lumbok Resort)
Wisata Paralayang
Wisata Alam Pekon Hujung
Wisata Alam Kubu Perahu
Desa Wisata Lumbok
Danau Suoh
Arung Jeram Sungai Way Besai
Pantai Tanjung Setia
Pantai Labuhan Jukung
Pesisir Selatan
Pantai Way Jambu
Pantai Way Sindi
Pantai Suka Negara
Pantai Way Haru
Situs Megalitik, di Pekon Purajaya
Rumah Tradisional, di Desa Sukadana
Petilasan Patih Gajah Mada, di Kecamatan Lemong

Objek Wisata di Kabupaten Lampung Selatan:
Air Terjun Way Peros - Desa Pematang
Goa Maja - Desa Maja Kecamatan Kind
Pantai Air Panas - Desa Air Panas
Pantai Bagus - Desa Merak Belatung Kalianda
Pantai Guci Batu Kapal - Desa Maja
Pantai Kresna - Kecamatan Kalianda
Pantai Marina - Kecamatan Kalianda
Pantai Merak Belatung - Dusun Muing, Merak Belatung
Pantai Sapenan - Desa Merak Belatung
Pantai Tanjung Beo - Desa Merak Belatung
Pantai Way Urang - Desa Way Urang Kecamatan Kalianda
Pantai Sebalang / Wisata Bahari Saburai - Dusun Sebalang Desa Tarahan
Pantai Tarahan / Tanjung Selaki - Desa Tarahan Kecamatan Ketibung
Pulau Pasir - Desa Rangai Kecamatan Ketibung
Pantai Tarahan - Desa Tarahan Kecamatan Ketibung
Pantai Alami - Desa Rugu Asem Ketapang

Objek Wisata di Kabupaten Lampung Tengah:
Air Terjun Curug Tujuh, terletak di Kecamatan Padang Ratu
Danau Bekri, terletak di Kecamatan Seputih Mataram
Taman Rekreasi Tirta Gangga, terletak di Kecamatan Seputih Banyak
Gua Maria, terletak di Kecamatan Seputih Mataram
Taman Nasional Way Kambas di Kabupaten Lampung Timur

Objek Wisata di Kabupaten Lampung Timur:
Pusat Latihan Gajah (PLG) - Karangsari
Bumi Perkemahan - Way Kambas
Penangkaran Badak Sumatera - Way Kanan
Rawa Kali Biru - Way Kanan
Rawa Gajah - Way Kanan
Kuala Kambas - Way Kanan
Situs Purbakala Pugung Raharjo - Kecamatan Sekampung Udik
Desa Tradisional Wana - Kecamatan Melinting
Taman Agro Wisata - Kecamatan Pekalongan
Danau Way Jepara - Kecamatan Way Jepara
Danau Way Kawat - Kecamatan Sukadana
Pesanggrahan Way Curup - Kecamatan Mataram Baru
Wisata Magrove - Kecamatan Labuhan Maringgai

Objek Wisata di Kabupaten Lampung Utara:
Air terjun Curup Paten - Kec. Bukit Kemuning
Taman Wisata Bendungan Way Rarem - Kec. Abung pekurun
Way Tebabeng - Kec. Abung Selatan
Bendungan Tirta Shinta - Kotabumi Selatan
Kermat Semul Asem - Kotabumi Ilir
Minak Trio Deso - Bukit Kemuning
Curup Selampung - Ogan Lima
Curup Kelawas Indah - Kec Abung Tengah
Curup Ateng - Bukit Kemuning
Taman Olah Seni - Jln. Jendral Sudirman No. 113

Objek Wisata di Kabupaten Pesawaran:
Pantai Cuku Upas - Desa Gebang, Padang Cermin
Pantai Sekar Wana - Sukajaya lempasing, Padang cermin
THR Ringgung (akses ke Pulau Tegal) - Sidodadi, Padang Cermin
Pantai Mutun (akses ke Pulau Tangkil) - Sukajaya Lempasing, Padang Cermin
Pantai Kelapa Rapet - Desa Gebang, Padang Cermin
Air Terjun Kembar - Wates Way Ratai, Padang Cermin
Air Terjun Ciupang (Muara) - Wates Way Ratai, Padang Cermin
Air Terjun Gunung Minggu - Desa Hurun, Padang Cermin
Air Terjun Abah Uban - Desa Hurun, Padang Cermin
Tahura wan Abdurrahman - Padang Cermin
Pulau Umang umang - Padang Cermin
Pulau Tangkil - Padang Cermin
Pulau Seserot - Padang Cermin
Pulau Pahawang Lunik - Padang Cermin
Pulau Tegal - Padang Cermin
Pulau Maitem - Gebang Padang Cermin
Pulau Pahawang - Punduh Pidada
Pantai Pancur Permai - Sukarame, Punduh Pidada
Pulau Legundi - Punduh Pidada
Pulau Balak - Pagar Jaya, Punduh Pidada
Lunik Resort - Punduh Pidada
Air Terjun Gunung Tanjung - Margidadi, Punduh Pidada

Objek Wisata di Kabupaten Pring Sewu:
Kolam Renang Grojogan Sewu
Kolam Pemancingan Sembilan

Objek Wisata di Kabupaten Tanggamus:
Wisata Pantai Terbaya
Gisting dan Kawasan Batu Keramat
Taman Nasional Bukit Barisan Selatan

Objek Wisata di Kabupaten Tulang Bawang:
River Tour di Sungai Tulang Bawang
Perkampungan Di Atas Air, di Kuala Teladas
Areal Konservasi Rawa Pitu
Rawa Pacing

Objek Wisata di Kabupaten Way Kanan:
Curup Putri Malu - Desa Juku Batu Kecamatan Banjit
Curup Bukit Duduk - Desa Juku Batu Kecamatan Banjit
Curup Bangsa - Kota Wai Kecamatan Kasui
Sumber Air Panas - Kayu Batu Kec. Gunung Labuhan dan Bukit Gemuruh Kecamatan Way Tuba
Agro Wisata Perkebunan - Talang Mangga Kec. Kasui dan Gedung Batin Kec. Blambangan Umpu
Wisata Perburuan - Kecamatan Blambangan Umpu



***