Meningkatkan Wawasan Dengan Berbagi Pengetahuan

Jumat, 27 Desember 2013

Swiss van Java Berhiaskan Intan



Saat Charlie Chaplin berkunjung ke kota kecil ini, dia merasa takjub dengan keelokan lanskapnya yang mirip dengan di Negara Swiss. Ia menyebut kota kecil ini dengan julukan, Switzerland van Java. Dikalangan orang Belanda, keindahan kota kecil ini sudah familiar bagi mereka. Mereka menyebutnya: Mooi. Sementara itu, Ir. Soekarno sang presiden pertama RI, menjulukinya sebagai kota: Indah; Tertib; Aman; dan Nyaman (INTAN). Sejumlah julukan lainnya pun, melekat pada kota kecil ini. Dialah, Kota Garut. Switzerland van Java; Mooi Garoet; dan Kota Intan.
Santolo, Pameungpeuk - Garut.

Bintang komedi dari Hollywood Amerika Serikat, Charlie Chaplin, pernah dua kali melakukan kunjungan ke Kota Garut. Kunjungan pertama pada tahun 1927 dengan Mary Pickford –artis Kanada, pemenang Piala Oscar, kunjungan keduanya pada tahun 1935 bersama istrinya sendiri Paulette Goddard. Di Eropa, keindahan Garut sebagai tempat untung melancong, sudah sangat terkenal. Tercatat beberapa tokoh yang pernah mengunjungi Kota Garut ini, antara lain: PM Perancis Georges Clemenceau, pada tahun 1920; Raja Leopold III dan Putri Astrid dari Belgia, pada tahun 1928; serta penyanyi wanita Renate Muller dan penyanyi pria Hans Albers –kedua-duanya dari Jerman, tercatat pernah mengunjungi Garut. Dikalangan orang Eropa, Garut dikenal sebagai Swiss van Java –Swissnya Jawa; dan Mooi Garoet –Garut yang Indah.
Tugu Garut Kota Intan, Tarogong Garut.

Wisata Pantai
Pantai Santolo Indah yang terletak di Pameungpeuk, tepatnya di Kecamatan Cikelet sebelah Selatan pusat Kota Garut. Jarak pantai ini dari kota Garut sekitar 80 km dan dapat ditempuh dengan perjalanan darat kurang lebih 3,5 jam. Dari Terminal Guntur Garut, bisa menggunakan angkutan umum mikrobus –elf jurusan Pameungpeuk. Meskipun cukup jauh, namun suasana perjalanan menuju ke pantai ini sangat memanjakan mata dengan pemandangan yang menyajikan pegunungan dan jalan berkelok-kelok. Pantai ini memiliki hamparan pasir putih yang lembut dan memanjang dari Barat ke Timur. Di sana terdapat tempat berlabuh dan berkumpulnya para nelayan tradisional. Selain itu, di kawasan pantai ini juga terdapat sebuah stasiun tempat peluncuran roket milik LAPAN (Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional).
Pulau Santolo Indah, Desa Mancagahar, Pameungpeuk - Garut.
Bergerak ke arah Selatan, kita dapat menyeberangi pulau yang biasa disebut dengan Pulau Santolo. Untuk menyeberanginya, kita dapat menyewa perahu nelayan. Di Pulau Santolo ini memang agak berbeda keadaan pantainya, meskipun tetap berpasir putih dan masih jernih airnya tetapi penuh dengan batuan karang. Jangan takut, masih tetap indah kok, sebab di sini spot paling cocok untuk camping bagi yang memiliki jiwa petualang.
Selain kita bisa menikmati suasana pantai yang tenang, di Pulau Santolo juga terdapat muara Cilaut-eureun yang cukup populer. Dinamakan Cilaut-eureun –air laut yang berhenti karena air laut di muara ini bergerak bukan menuju laut, melainkan kembali lagi ke arah muara. Sederhananya biasa disebut air laut yang mengalir ke darat, dengan ombak yang tenang. Konon peristiwa seperti ini hanya bisa ditemukan di dua tempat, yakni di Santolo Garut dan Perancis.
Pantai Taman Manalusu menawarkan keindahan alam yang begitu mempesona. Selain panorama alamnya, pantai ini memiliki bunga karang dan rumput laut yang tumbuh di sepanjang bibir pantai pada kedalaman tertentu sehingga disebutlah sebagai taman pantai. Pantai Taman Manalusu juga kaya dengan ikan hias. Ikan hias ini tidak perlu dicari jauh sampai ke tengah laut, ikan-ikan ini ada di sela-sela karang yang terhampar sepanjang pantai. Ikan-ikan ini terbawa gelombang pasang dan terjebak di karang-karang ketika air laut menyusut, makanya bila kita berwisata pantai ini, jangan lupa untuk membawa alat penangkap ikan kecil, supaya kita bisa ikut rame-rame seperti wisatawan lainnya yang sibuk menangkap ikan hias dengan alat seadanya.
Pantai Gunung Geder, pantai yang asli seperti belum terjamah oleh manusia. Karena belum terawat dengan baik, jadi suasananya apa adanya.
Pantai Karang Tepas, tempat ini hanya bisa diakses melalui jalan setapak. Karang Tepas sungguh menakjubkan, serasa sedang berada di depan geladak kapal yang sedang menerjang ombak. Tepas dalam bahasa sunda berarti teras depan rumah dan memang Karang Tepas seperti teras yang menghadap lautan lepas. Sebagian warga sekitar sering menggunakan tempat ini sebagai tempat untuk memancing ikan.
Pantai Karang Sebrotan terletak di sebelah Barat Karang Tepas. Nama Karang Sebrotan diambil karena ombak yang menghantam karang ini seperti menyemprot kembali ke atas karang.
Pantai Sodong Parat terletak di sebelah Barat Karang Sebrotan. Obyek wisata ini merupakan sebuah karang besar dan di bawahnya terdapat lubang yang tembus dari sisi satu ke sisi lainnya atau dalam bahasa sunda biasa di sebut parat.
Pantai Cicalobak lokasinya tidak jauh dari Sodong Parat dan berada tepat di samping jalan raya lintas Selatan menuju Rancabuaya –dari arah Cijayana. Pantai Cicalobak merupakan teluk kecil dengan batu karang di samping kiri-kanannya. Karena menjorok ke darat, dengan ombak lautnya tidak terlalu besar serta airnya pun dangkal, sehingga relatif aman untuk berenang.
Pantai Rancabuaya, merupakan tujuan utama dari sebagian besar wisatawan yang berwisata ke Pantai Selatan Garut. Selain keindahannya, pantai ini juga sudah memiliki fasilitas yang cukup lengkap dari mulai penginapan hingga rumah makan berjajar di sepanjang sisi pantai. Kita juga bisa membeli ikan di sini, karena terdapat pelabuhan kecil yang cukup ramai.
Pantai Cidora, terletak tidak jauh dari Pantai Rancabuaya. Ada sebuah turunan ke kanan sebelum memasuki Pantai Rancabuaya, kita bisa menjangkau Pantai Cidora dengan berjalan kaki dari Pelabuhan Rancabuaya –karena masih satu area. Jika kita lebih senang dengan suasana yang tidak terlalu ramai, maka Cidora merupakan tempat yang cocok.

Wisata Bukit dan Gunung
Puncak Guha merupakan sebuah bukit yang berada tepat di bibir Pantai Cicalobak dan di bawahnya terdapat goa. Di goa ini terdapat banyak sekali lalay –kelelawar dan kita bisa melihatnya dari atas –terdapat sebuah lubang seperti sumur yang menyambung dengan goa di bawah bukit ini.
Batu Tumpang berada di wilayah perkebunan teh PTPN Giri Awas Cikajang. Batu Tumpang merupakan sebuah tebing gunung yang memiliki ketinggian 20 meter dikelilingi area perkebunan teh hijau dengan nuansa kesejukan alam yang khas.
Gunung Papandayan adalah gunung api yang terletak di Kecamatan Cisurupan Garut –sekitar 15 km dari pusat Kota Garut, dan 70 km sebelah Tenggara Kota Bandung. Di gunung dengan ketinggian 2665 meter di atas permukaan laut itu, terdapat beberapa kawah yang terkenal. Di antaranya: Kawah Mas, Kawah Baru, Kawah Nangklak, dan Kawah Manuk. Kawah-kawah tersebut mengeluarkan uap dari sisi dalamnya. Topografi di dalam kawasan ini curam, berbukit dan bergunung serta terdapat tebing yang terjal.

Perkebunan Teh
Perkebunan Teh Dayeuh Manggung, terletak di Desa Subatan Kecamatan Cilawu –berjarak 6 km dari ibukota kecamatan dan 15 km dari ibukota Kabupaten Garut. Lokasi ini dapat ditempuh dengan angkutan kota dari Terminal Guntur Garut, jurusan Cilawu. Panorama yang elok dengan bukit-bukit teh yang hijau permai akan memanjakan mata kita di perkebunan ini. Kelebihan lainnya adalah tingkat kebisingan yang rendah –karena pabrik pengolahan teh terdapat dibagian bawah perkebunan. Disekitar perkebunan, terdapat pohon pinus –yang menambah keindahan lanskap perkebunan. Di lokasi ini, kita dapat melakukan berbagai aktivitas hoby, seperti: hiking; tracking; piknik; atau fotografi.

Curug Orok
Curug Orok terletak di Desa Cikandang Kecamatan Cikajang Garut, merupakan sebuah air terjun yang menjulang dari perbukitan. Lokasi yang berjarak 34 km ini dapat ditempuh dengan angkutan umum dari Terminal Guntur Garut, jurusan Bungbulang. Untuk sampai ke Curug Orok, kita harus menuruni sengked sekitar 100 meter. Ketika sampai di bawah, kita dapat langsung menikmati suasana air terjun dengan ketinggian 20 meter.

Pemandian Air Panas
Cipanas Garut yang menawarkan sarana rekreasi dan juga kolam renang air panas, menjadi salah satu objek wisata yang paling banyak dikunjungi –terlebih, di hari libur dan akhir pekan. Tempat ini terletak di wilayah Tarogong Kidul Garut, tidak jauh dari pusat Kota Garut. Selain Cipanas, Kota Garut pun memiliki pemandian air panas terbaru, yaitu: Puncak Darajat (Darajat Pass) Garut. Panorama alam Puncak Darajat, menawarkan berjuta keindahan alamnya kepada para pengunjung yang datang ke tempat tersebut. Berlokasi di Jalan Darajat Km 25 Pasirwangi; Desa Padaawas Samarang Garut, terletak di bawah kaki Gunung Papandayan dan berjarak sekitar 24 km dari pusat Kota Garut. Setidaknya, ada dua lokasi kolam pemandian air panas yang ditata cukup apik di kawasan perbukitan tersebut. Lokasi tersebut adalah: Darajat Pass Water Park dan Awit Sinar Alam Darajat, yang dilengkapi dengan: waterboom; ember tumpah; saung untuk berkumpul; serta lahan parkir yang luas. Dari Puncak Darajat ini, kita bisa melihat hamparan hijau Kota Garut yang dikelilingi oleh gunung-gunung indah. Sungguh, pemandangan yang sangat luar biasa indahnya.
Lanskap Darajat Pass Resort, Jalan Darajat Km 25 Pasirwangi - Samarang Garut.

Rumah Bambu
Rumah Bambu terletak di Desa Cimurah, Kecamatan Karangpawitan, Garut. Lokasinya berada di tengah hamparan sawah di dekat Sungai Cimanuk, menempati lahan seluas 1 hektar. Daya tarik lokasi ini juga bukan hanya keindahan suasananya, melainkan juga informasi mengenai sejarah dan serta koleksi budaya Parahyangan yang disimpannya. Di dalamnya terdapat foto-foto lama, peta kuno, beragam jenis daun teh, harimau jawa yang telah punah dan diawetkan, hingga berbagai informasi menarik lainnya tentang teh dan kebudayaan Indonesia. Francis Benteux, penulis buku Tea History in South Asia, yang pernah berkunjung dua kali ke kawasan ini, mengatakan, data dan informasi tentang teh yang dimiliki Rumah Bambu tergolong unik. Banyak data berharga tentang teh Indonesia yang tak dimiliki tempat lain. Ia yakin, jika makin banyak orang datang dan mengetahui informasi tersebut, hal itu akan menjadi bekal untuk pengembangan teh Indonesia di masa datang. 
Selain itu, kita juga dapat mengetahui kisah Karel Frederik Holle yang mendirikan Perkebunan Teh Waspada di Garut pada 1865. Holle berperan besar memunculkan varietas domba Garut (Ovies aries) yang dikenal gagah itu. Penelitian Universitas Padjadjaran pada 2002 menyebutkan, domba Garut merupakan hasil silangan antara domba Kaapstad asal Afrika, domba Merino asal Australia, dan domba lokal. Domba Merino ini diyakini dipelihara Holle pertama kalinya di Garut. Holle berteman dengan Moehamad Moesa, tokoh masyarakat Garut, dan belajar ajaran agama Islam hingga mendapat julukan Said Mohammad Ben Holla. Di Rumah Bambu, konsep rumah tradisional Sunda yang disebut Papandak diangkat kembali. Foto-foto karya fotografer Perancis, Thilly Weissenborn, pada 1917-1942 tentang Rumah Papandak sudah terekam. Artis Charlie Chaplin tercatat datang dua kali ke Garut setelah melihat foto Thilly yang dicetak jadi kartu pos. Di tempat ini selain untuk penyuka wisata sejarah dan budaya juga bisa buat pelatihan atau sekadar pelepas penat. Wahana drum jungkit, kolam renang, tarik tambang, arena pemancingan ikan, hingga tangga goyang dan kolam renang mini berpadu dengan arena pemancingan ikan dan sawah warga.

Kerajinan Kulit
Sentra industri kulit terletak tidak jauh dari pusat Kota Garut, tepatnya terletak di daerah Sukaregang Kecamata Garut Kota. Deretan outlet penjual produk kulit berada di Jalan Ahmad Yani Kota Garut, sedangkan industri penyamakan kulit serta pengrajin produk kulit kebanyakan berada di Jalan Gagak Lumayung –yang terletak tidak jauh dari Jalan Ahmad Yani. Di Gagak Lumayung ini juga terdapat beberapa outlet penjual produk kulit. Produk hasil olahan kulit yang dijual di kawasan ini beraneka ragam, mulai dari: dompet, sepatu, sandal, tas, jaket, sampai sarung tangan kulit tersedia dengan harga yang cukup terjangkau. Jaket kulit Sukaregang Garut adalah sentra pembuatan jaket kulit terbesar di Indonesia. Produk kulit buatan Sukaregang Garut memiliki kualitas yang setara dengan produk impor.
Sepatu Sukaregang, Garut.

Kuliner
Garut adalah salah satu penghasil coklat terbaik di Indonesia. Sejak jaman Belanda, Garut adalah penghasil coklat yang terkenal. Kualitasnya tidak kalah dengan coklat-coklat luar negeri. Adalah Chocodot (baca: Cokodot), yang mencoba membangkitkan kuliner Garut ini dengan memproduksi beraneka ragam coklat Chocolate with Dodol Garut. Di Gedoeng Chocodot yang berlokasi di Jalan Siliwangi No 6 Garut ini tersedia beraneka ragam coklat, dan juga oleh-oleh khas Garut, seperti: ranginang, kembang seroja, ladu dan lain-lain.
Gedoeng Chocodot, Jalan Siliwangi Garut.

Kota Garut, tak hanya populer dengan dodolnya saja. Kini, ada fenomena kuliner baru, yakni: Baso Tahu Domba. Baso Tahu Domba ala “Agus Nikmat” terus mengundang kepenasaran berbagai kalangan, tak terkecuali pejabat di Pemkab Garut –Sekretaris Daerah (Sekda) kabupaten Garut, H. Iman Ali Rahman. Racikan baso tahu –kombinasi bahan baku daging domba ini merupakan terobosan terbaru dari Agus Ruhiat pemilik bisnis baso tahu terkemuka di Kota Garut. Kelezatan cita rasa baso tahu domba yang dipadukan dengan bumbu kacang nan gurih khas Agus Nikmat ini, ide brilian Agus Ruhiat, ternyata menghasilkan cita rasa kuliner oriental, berpadu dengan resep etnik khas Garut –dengan ikon domba Garutnya. Nama Agus Nikmat, sebenarnya sudah tidak asing lagi jika dikaitkan dengan bisnis baso tahu di Kabupaten Garut. Pasalnya, Agus Ruhiat –merupakan  pemilik merek dagang baso tahu  Agus Nikmat yang sekarang ini adalah pewaris tunggal dari “kerajaan bisnis” baso tahu Mang Ilen yang telah melegenda di kabupaten Garut. Cita rasa baso tahu Agus Nikmat sebenarnya tidak berubah, yang berbeda hanyalah nama dan sedikit inovasi dalam varian rasanya saja. Selain sajian baso tahu dengan sensasi daging dombanya, Agus Nikmat juga masih tetap menyajikan baso tahu reguler berbahan baku ikan tenggiri segar –baik yang dikukus maupun baso tahu goreng (batagor). Kabar akan kelezatan baso tahu Agus Nimat, belakangan kian menyebar dari mulut ke mulut –atau mungkin karena berbagai pemberitaan media massa. Sensasi kelezatan baso tahu domba ini, bukan hanya isapan jempol belaka. Terbukti, beberapa stasiun TV –baik nasional maupun lokal menyempatkan diri menyambangi kedai baso tahu domba Agus Nikmat yang berpusat di Jalan Papadandayan Nomor 80, Kota Garut, Jawa Barat ini. Selain untuk mereportase proses pembuatan baso tahu khas Agus Nikmat, para reporter TV ini pun ternyata penasaran juga untuk menjajal kelezatan baso tahu domba Agus Nimat yang memang nikmat dan unik.
Kedai Baso Tahu Agus Nikmat, Jalan Papandayan No. 80 (atas). Agus "Nimat" Ruhiat dengan Sekda Garut (bawah).


Batik Garut
Usaha pembatikan di Garut, merupakan warisan nenek moyang yang berlangsung turun temurun dan telah berkembang lama sebelum masa kemerdekaan. Pada tahun 1945, Batik Garut semakin populer dengan sebutan Batik Tulis Garutan dan mengalami masa jaya antara tahun 1967 hingga 1985. Proses pembuatan dan pewarnaan Batik Garut, sangatlah rumit. Rahasia kecemerlangan warna Batik Garut terletak pada proses pengetelan –penggodokan kain katun sebagai bahan dasarnya. Sebelum ditulis dengan cairan malam, sehelai kain katun mengalami proses pengetelan paling tidak selama satu bulan. Kain direndam dalam campuran minyak su’uk –minyak kacang dan air merang, lalu diinjak-injak kemudian dijemur. Jika sudah kering, proses tersebut diulang berkali-kali selama dua minggu. Dua minggu kemudian, kain diembunkan dan digantung tanpa terkena sengatan matahari langsung. Idealnya, proses pengetelan membutuhkan waktu selama 40 hari. Dengan proses tersebut, akan menghasilkan warna kain yang mengkilap; tidak mudah luntur; dan tahan lebih dari 100 tahun. Proses seperti itu saat ini sudah jarang dilakukan, karena tak efektif dan efisien lagi untuk memenuhi permintaan pasar. Untuk penyelesaian satu helai Batik Garut, dibutuhkan waktu satu hingga dua bulan. Proses awal adalah pengetelan, kemudian pembuatan gambar dasar atau pemolaan. Proses selanjutnya: pembatikan; pewarnaan; kemudian dilorod. Batik Garutan umumnya digunakan untuk kain sinjang –kain panjang, namun berfungsi juga untuk memenuhi kebutuhan sandang dan lainnya. Bentuk motif Batik Garut merupakan cerminan dari kehidupan sosial budaya, falsafah hidup, dan adat-istiadat orang Sunda. Beberapa perwujudan Batik Garut secara visual dapat digambarkan melalui motif dan warnanya. Motif-motif yang dihadirkan, berbentuk geometrik sebagai ciri khas ragam hiasnya. Bentuk geometrik umumnya mengarah ke garis diagonal dan bentuk kawung atau belah ketupat. Warnanya didominasi oleh warna krem –gading, biru, dan soga agak merah, dipadukan dengan warna-warna cerah lainnya yang merupakan karakteristik khas Batik Garutan.  Motif Bulu Ayam, memperlihatkan ekor ayam yang panjang dan dilengkung setengah lingkaran. Ada juga motif Limar dan Merak Ngibing. Motif lainnya adalah: Lereng Adumanis, Lereng Su’uk, Lereng Calung, Lereng Daun, Cupat Manggu, Bilik, Sapu Jagat, Lereng Peuteuy, serta motif flora dan fauna. Terdapat juga motif unik yang terinspirasi dari dodol Garut dan juga domba Garut.
Proses pembuatan Batik Garut di Pameran Pembangunan Garut, Lapang Oto Iskandar Di Nata Garut.


***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar