Meningkatkan Wawasan Dengan Berbagi Pengetahuan

Kamis, 26 Desember 2013

Mengasah Rencong di Serambi Mekah



Serambi Mekah, nama itu diberikan karena Aceh merupakan pintu gerbang masuknya agama Islam ke Nusantara. Aceh juga menjadi tempat persinggahan orang yang pulang dan pergi naik haji. Penduduk Aceh  merupakan pemeluk agama Islam yang kuat, baik dalam menjalankan syariat  Islam maupun dalam kehidupannya sehari-hari. Adat istiadatnya pun banyak bersumber dari Islam dengan ikatan kekeluargaan antarpenduduk amat erat. Tiap Gampong yang dipimpin oleh Keuchik, senantiasa didampingi oleh seorang Teungku Imum yang senantiasa memberi nasihat dan tuntunan yang baik. Di setiap Gampungpun terdapat Meunasah yang berfungsi sebagai tempat musyawarah, pendidikan dan beribadat, hingga sejak kecil penduduknya telah terbiasa bergaul akrab.
Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh.

Letaknya dekat dengan Kepulauan Andaman dan Nikobar di India dan terpisahkan oleh Laut Andaman. Aceh berbatasan dengan Teluk Benggala di sebelah Utara, dengan Samudera Hindia di sebelah Barat, dengan Selat Malaka di sebelah Timur, dan dengan Sumatera Utara di sebelah Tenggara dan Selatan. Ibukota provinsi, terletak di Kota Banda Aceh. Aceh, pertama dikenal dengan nama Aceh Darussalam (1511–1959), kemudian Daerah Istimewa Aceh (1959–2001), Nanggroë Aceh Darussalam (2001–2009), dan terakhir Aceh (2009–sekarang). Sebelumnya, nama Aceh biasa ditulis: Acheh, Atjeh, dan Achin. Aceh Darussalam pada zaman kekuasaan zaman Sultan Iskandar Muda Meukuta Perkasa Alam (Sultan Aceh ke-19), merupakan negeri yang amat kaya dan makmur. Menurut seorang penjelajah asal Perancis yang tiba pada masa kejayaan Aceh di zaman tersebut, kekuasaan Aceh mencapai pesisir Barat Minangkabau hingga Perak. Kesultanan Aceh telah menjalin hubungan dengan kerajaan-kerajaan di dunia Barat pada abad ke-16, termasuk Inggris, Ottoman, dan Belanda.
Penerapan Syariat Islam di Aceh
Selain itu, provinsi Aceh memiliki ‘keistimewaan’ dibandingkan dengan provinsi yang lain. Karena di provinsi ini –berdasar UU No.18/2001, Syariat Islam diberlakukan kepada sebagian besar warganya yang menganut agama Islam. Sistem pemerintahan yang berlaku di Aceh saat ini ada 2, yaitu: Sistem Pemerintahan Lokal Aceh dan Sistem Pemerintahan Indonesia. Berdasarkan penjenjangan, perbedaan yang tampak adalah adanya Pemerintahan Mukim di antara Sagoë dan Gampông. Sistem pemerintahan lokal Aceh terdiri dari gampông, mukim, nanggroë, sagoë dan keurajeun.
Gampông atau disebut kampung dalam bahasa Melayu, merupakan sebuah sistem pemerintahan setingkat desa yang berdiri secara otonom. Sebuah gampông dipimpin oleh kepala desa yang disebut Keuchik atau Geuchik dan dibantu oleh suatu dewan musyawarah yang disebut Tuha Peut.
Mukim merupakan suatu sistem pemerintahan setingkat kecamatan yang dahulu diberlakukan pada saat Kesultanan Aceh. Sebuah Mukim terdiri dari beberapa buah Gampông. Di tiap-tiap Mukim didirikan sebuah masjid yang dipergunakan untuk sholat Jum’at. Yang memimpin masjid disebut Teungku Imum Raja. Mukim dipimpin oleh Imum Mukim dan dibantu oleh suatu dewan musyawarah yang disebut Tuha Lapan.
Sagoë merupakan suatu sistem pemerintahan setingkat kabupaten. Sebuah Sagoë dipimpin oleh hulubalang yang bergelar Teuku atau Ampon. Sagoë terdiri dari Mukim-Mukim, layaknya sebuah kabupaten yang terdiri dari kecamatan-kecamatan.
Nanggroë merupakan suatu sistem pemerintahan setingkat Negara. Dalam bahasa Melayu, Nanggroë disebut dengan nama kenegerian. Sebuah Nanggroë dipimpin oleh Wali Negara yang bergelar Paduka njang Mulia. Namun hal ini sekarang tidaklah sejalan dengan sistem hukum Indonesia sehingga Wali Nanggroë merupakan salah satu simbol kebudayaan Aceh. Sebuah Nanggroë terdiri dari Sagoë- Sagoë.

Tidak Pernah Menyerah
Penangkapan Cut Nyak Dhien oleh Belanda, 1905.
Perang Aceh Pertama (1873-1874) dipimpin oleh Panglima Polim dan Sultan Mahmud Syah melawan Belanda yang dipimpin Köhler. Köhler dengan 3000 serdadunya dapat dipatahkan –dimana Köhler sendiri tewas pada tanggal 14 April 1873. Sepuluh hari kemudian, perang berkecamuk di mana-mana.
Perang Aceh Kedua (1874-1880). Belanda dipimpin oleh Jenderal Jan van Swieten dan berhasil menduduki Keraton Sultan pada 26 Januari 1874 –kemudian dijadikan sebagai pusat pertahanan Belanda. Perang pertama dan kedua ini adalah perang total dan frontal, dimana pemerintah masih berjalan mapan, meskipun ibukota negara berpindah-pindah ke Keumala Dalam, Indrapuri, dan tempat-tempat lain.
Perang Aceh Ketiga (1881-1896), perang dilanjutkan secara gerilya dan dikobarkan perang fi sabilillah –perang gerilya ini dilangsungkan sampai tahun 1903. Dalam perang gerilya ini pasukan Aceh di bawah Teuku Umar bersama Panglima Polim dan Sultan. Pada tahun 1899 ketika terjadi serangan mendadak dari pihak van der Dussen di Meulaboh, Teuku Umar gugur. Tetapi Cut Nyak Dhien istri Teuku Umar kemudian tampil menjadi komandan perang gerilya. Cut Nyak Dhien akhirnya dapat ditangkap pada tahun 1905 dan diasingkan ke Sumedang -Jawa Barat.
Perang Aceh Keempat (1896-1910) adalah perang gerilya kelompok dan perorangan dengan perlawanan, penyerbuan, penghadangan dan pembunuhan tanpa komando dari pusat pemerintahan kesultanan.
Walau demikian, wilayah Aceh tetap tidak bisa dikuasai Belanda seluruhnya, dikarenakan pada saat itu tetap saja terjadi perlawanan terhadap Belanda meskipun dilakukan oleh sekelompok orang (masyarakat). Hal ini berlanjut sampai Belanda enyah dari Nusantara.
Tugu Modal di depan Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh.

Masjid Raya Baiturrahman
Masjid Raya Baiturrahman adalah sebuah masjid yang berada di pusat Kota Banda Aceh. Ditandai oleh 7 kubah besar, dan 7 menara masjid. Di depan masjid terdapat sebuah menara yang disebut dengan: “Menara Daerah Modal atau Tugu Modal” setinggi 45 meter dengan hiasan Boh Rue Aceh di puncak menara. Tugu Modal merupakan sebuah monumen yang menunjukkan Aceh pernah dinyatakan sebagai: ‘daerah modal dalam perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia’. Masjid ini dahulunya merupakan masjid Kesultanan Aceh. Dengan dinding putih cerahnya dan kubah megah berwarna hitam, masjid agung berusia 130 tahun ini adalah bangunan yang sangat indah. Kitab kerajaan mengatakan bahwa masjid ini, pertama kali dibangun dari kayu pada tahun 1022 Hijriyah atau 1621 Masehi di bawah kepemimpinan Sultan Iskandar Muda (1607-1636 M). Beberapa sejarawan menyatakan, masjid ini bahkan dibangun lebih awal pada tahun 1292 Masehi oleh Sultan Alaiddin Mahmud Syah.
Saat ditanya tentang objek apa yang dapat dijadikan rujukan untuk melambangkan Serambi Mekah, maka hampir semuanya menunjuk Masjid Raya Baiturrahman sebagai simbol yang terkuat. Hal ini dikarenakan masjid ini memiliki kharisma yang amat tinggi –baik dari sejarah, maupun dari kiprahnya dalam melaksanakan syiar Islam di Aceh, sebagai replika yang mencerminkan Makkah al Mukarramah. Serambi adalah “ruang antara”. Metafora kota Banda Aceh sebagai “serambi” akan berkonotasi: harmoni. Di serambi, orang dapat beristirahat dalam suasana teduh; bersenda gurau; bersantai dengan sanak keluarga; dan bisa pula beramah-tamah dengan tamu-tamu yang datang berkunjung. Suasana seperti itulah yang didambakan. Sedangkan Mekah, merupakan suatu titik orientasi atau pusat bagi umat Islam. Dalam ajaran Islam yang menjadi pusat adalah Ka’bah yang ada di Mekah. Serambi merupakan suatu bagian dari keseluruhan –the wholeness, menjadi bagian dari pusat dunia. Aceh menjadi bagian dari Mekah. Itu sebabnya Aceh disebut Serambi Mekah.
Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh.
Masjid ini pernah terbakar masa pemerintahan Sultan Nurul Alam (1675-1678 M). Sebagai gantinya kemudian dibangun masjid baru di lokasi yang sama. Di era penjajahan kolonial Belanda, -disamping berfungsi sebagai tempat ibadah, masjid ini juga berfungsi sebagai markas pertahanan rakyat Aceh. Fungsi masjid sebagai pusat perlawanan, sangat jelas terutama di masa Sultan Alaiddin Mahmud Syah. Pada 10 April 1873, masjid ini berhasil direbut oleh Belanda dan sebagian bangunannya dibakar. Pada bulan shafar 1290 Hijriyah atau 14 April 1873 M, rakyat Aceh berhasil merebutnya kembali melalui pertempuran yang dahsyat. Dalam pertempuran tersebut, Mayjen JHR Kohler ikut terbunuh bersama lebih dari 400 pasukannya. Tewasnya Kohler, diabadikan dalam sebuah monumen kecil di bawah pohon geulumpang/ketapang dekat pintu masuk sebelah Utara masjid. Akibat kekalahan tersebut, Belanda kemudian mempersiapkan pasukan yang jauh lebih besar dengan persenjataan yang lebih lengkap. Pada 6 Januari 1874 –meski dipertahankan mati-matian oleh rakyat Aceh, masjid ini berhasil diduduki oleh Belanda. Dan kali ini, Belanda membakar seluruh bangunan hingga rata dengan tanah. Kenyataan ini, menambah kemarahan rakyat Aceh. Untuk membujuk dan meluluhkan hati rakyat Aceh, Gubernur Jenderal Belanda JW van Landsberge kemudian mengunjungi Aceh dan berjanji kepada rakyat Aceh untuk membangun kembali masjid baru. Pernyataan ini diumumkan setelah diadakan permusyawaratan dengan kepala-kepala Negeri sekitar Banda Aceh. Peletakan batu pertama dilakukan pada hari Kamis 13 Syawal 1296 H atau 9 Oktober 1879 M oleh Tengku Qadhi Malikul Adil, disaksikan oleh Gubernur Militer Hindia Belanda di Aceh saat itu, yaitu: GJ van der Heijden. Arsitek yang merancang Masjid Raya Baiturrahman adalah seorang Kapten Zeni Angkatan Darat Belanda, bernama: de Bruijn. Untuk menentukan arsitektur masjid, ia berkonsultasi terlebih dulu dengan Snouck Hurgronje dan Penghulu Masjid Bandung –Jawa Barat. Denah salib pada lantai masjid yang muncul pada rancangan awal telah hilang, berganti rupa menjadi denah bernuansa Islami. Pembangunan masjid berkubah tunggal selesai dan diresmikan pada 27 Desember 1881 (atau 1883 ?) M. Kubah masjid, berbentuk Bawang –tidak seperti masjid asli Aceh semacam Indrapuri, yang memiliki bentuk atap Meru bersusun tiga. Masjid Raya Baiturrahman terletak di tengah Kota Banda Aceh –dulu bernama: Kuta Raja.
Dua kubah ditambahkan lagi oleh Belanda tahun 1935-1936.
Pada tahun 1957 di masa pemerintahan presiden pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno, masjid ini kembali berubah. Dua kubah baru dibuat di bagian belakang, dibangun pula dua menara dengan jumlah tiang mencapai 280 buah. Karena perluasan ini, sejumlah toko di Pasar Aceh yang berada di sekeliling masjid, tergusur. Peletakan batu pertama dilakukan oleh Menteri Agama KH Muhammad Ilyas, bersama Gubernur Aceh Ali Hasymi. Membutuhkan waktu empat tahun untuk menyelesaikan proses pembangunan tersebut. Renovasi masjid yang dilakukan pemerintah Soekarno terjadi pada masa Gerakan Darul Islam pimpinan Daud Beureu’eh. Sehingga banyak kalangan yang mengaitkan pembangunan itu sebagai usaha pemerintah meredam pemberontakan itu. Lima kubah juga dianggap mewakili Pancasila yang digagas Ir. Soekarno. Pemberontakan tersebut berakhir dengan perdamaian antara pemerintah dengan Daud Beureu’eh. Sekedar catatan: Aceh yang semula bergabung dengan Indonesia –dengan jaminan: Soekarno akan menerapkan syariat Islam di Aceh, merasa kecewa karena syariat Islam tidak dijadikan sebagai landasan negara. Sehingga pada tanggal 13 Muharram 1372 Hiriyah (21 September 1953 M), Teungku Muhammad Daud Beureu'eh atas nama rakyat Aceh mengumumkan bergabung dengan Negara Islam Indonesia yang didirikan oleh Kartosoewirjo.
Pada tahun 1991 M –dimasa Gubernur Ibrahim Hasan terjadi perluasan kembali yang meliputi halaman depan dan belakang serta masjidnya itu sendiri. Bagian masjid yang diperluas, meliputi: penambahan dua kubah, bagian lantai masjid tempat shalat, ruang perpustakaan, ruang tamu, ruang perkantoran, aula dan ruang tempat wudhuk, serta 6 lokal sekolah. Sedangkan. perluasan halaman, meliputi: taman dan tempat parkir serta satu buah menara utama dan dua buah minaret.
Dengan demikian, Masjid Raya Baiturrahman saat ini memiliki 7 kubah.

Pasca Tsunami
Masjid Raya Baiturrahman dalam perangko 2002
Gempa dan Tsunami di bulan Desember 2004, masjid secara struktural tidak mengalami kerusakan berarti. Ribuan buku koleksi perpustakaan hampir sebagian besar hanyut atau terendam lumpur. beberapa buku yang hanyut ke halaman belakang masjid, sempat diselamatkan. Gempa juga mengakibatkan pondasi mesjid turun pada beberapa tempat. Namun tidak begitu terlihat. Kerusakan parah hanya terjadi pada menara di halaman masjid, yang dikenal dengan sebutan Tugu Modal. Pasca tsunami, setelah dibersihkan tanggal 7 Januari 2005, masjid ini kembali difungsikan dengan menggelar sholat Jum’at untuk pertama kalinya. Kerusakan-kerusakan Masjid Baiturrahman diperbaiki. Perbaikan besar-besaran dilakukan lewat sumbangan lembaga donor, di antaranya Saudi Charity Campaign yang  juga membuat fasilitas umum seperti tempat wudhu di sisi Utara, penataan lanskap di sekitar bangunan, dan kolam. Semua perbaikan dan renovasi itu menghabiskan dana Rp. 20 milyar dan selesai pada 15 Januari 2008. Salah satu tiang peninggalan Belanda –ketika masjid masih berkubah satu, masih dipertahankan. Arsitektur masjid ini bercorak eklektik, yaitu gabungan berbagai unsur dan model terbaik dari berbagai negeri. tiga pintu bukaan serta jendela yang bisa berfungsi sebagai pintu masuk. Jendela ini dibentuk oleh empat tiang langsing silindris model arsitektur Mooris –Maroko, yang banyak terdapat di masjid-masjid Afrika Utara dan Spanyol. Sementara bagian tengah ruang shalat berbentuk bujur sangkar, diatapi kubah utama yang bercorak Bawang. Pucuknya dihiasi kubah, mirip masjid-masjid kuno di India. Masjid Raya Baiturrahman memiliki lembaga pendidikan formal, yaitu: Madrasah Tsanawiyah Darusysyari’ah dan Madrasah Aliyah Darusysyari’ah. Juga memiliki lembaga swadaya masyarakat yang bergerak dalam bidang finansilal, yaitu Baitul Qiradh Baiturrahman Banda Aceh –dalam upaya membantu masyarakat ekonomi lemah. Selain itu, memiliki: Radio Baiturrahman, yang setiap waktu menyiarkan kegiatan Masjid, berupa pelaksanaan shalat lima waktu, menyiarkan Halaqah Maghrib dan Kuliah Shubuh. Radio Baiturrahman dapat menjangkau sebagian wilayah aceh terutama kota banda Aceh, Aceh Besar, Aceh Barat dan Kabupaten Pidie. Radio Baiturrahman juga menyiarkan bergagai informasi melalui ceramah, dialog, dan diskusi juga menghibur masyarakat dengan nuansa lagu-lagu Islami disamping menyiarkan siaran nasional. Dibidang media cetak, masjid ini juga memiliki ‘Tabloid Gema Baiturrahman” yang dikeluarkan pada setiap hari Jum’at dengan menyajikan khutbah Jum’at dan tulisan yang bernuansa Islami. Media tersebut disebarkan kepada jama’ah sebelum shalat Jum’at di Masjid Raya Baiturrahman –bahkan sebagian disampaikan ke sejumlah masjid yang berada di kota Banda Aceh, dan masjid-masjid Aceh. Di masjid ini juga dibuka perguruan tinggi “Dayah Manyang” pada pagi hari, yang pesertanya terdiri dari orangtua –khususnya kaum laki-laki yang diasuh oleh para ulama pesantren modern dan alumni Madinah. Kegiatan ini dilaksanakan pada setiap hari Rabu dan Jum’at dari pukul 08.00 hingga 11.30 WIB di ruang aula belakang Masjid Raya Baiturrahman.
Keelokan serta ketangguhannya saat diterjang tsunami, membuat banyak orang berdecak heran sekaligus kagum pada masjid ini.

Monumen Kapal PLTD Apung di Gampong Punge, Blangcut - Banda Aceh.
Monumen Kapal PLTD Apung
Luar biasa, kapal berbobot 2.600 ton yang dibawa tsunami ke tengah kota. Monumen Pembangkit Listrik Tenaga Diesel Apung di Gampong Punge, Blangcut, Banda Aceh. Sesuai namanya, kapal ini merupakan sumber tenaga listrik bagi wilayah Ulee Lheue –tempat kapal ini ditambatkan sebelum terjadinya tsunami. Kapal dengan panjang 63 meter ini mampu menghasilkan daya sebesar 10,5 megawatt. Dengan luas mencapai 1.900 meter persegi dan bobot 2.600 ton, tidak ada yang membayangkan kapal ini dapat bergerak hingga ke tengah Kota Banda Aceh. Ketika tsunami terjadi pada tanggal 26 Desember 2004, kapal yang sedang berada di Pantai Ulee Lhee ini terseret gelombang pasang setinggi 9 meter sehingga bergeser ke jantung Kota Banda Aceh sejauh 5 kilometer. Kapal ini terhempas hingga ke tengah-tengah pemukiman warga, tidak jauh dari Museum Tsunami. Dari 11 orang awak dan beberapa warga yang berada di atas kapal ketika tsunami terjadi, hanya satu orang yang berhasil selamat. Fenomena pergeseran kapal ini menunjukkan kedahsyatan kekuatan gelombang yang menimpa Serambi Mekah kala itu. Di sekeliling monumen, dibangun dinding dengan relief menyerupai gelombang air bah. Dari atas kapal ini, pengunjung juga dapat melihat Kota Banda Aceh dan rangkaian pegunungan Bukit Barisan. Terdapat pula beberapa teropong yang bisa digunakan pengunjung untuk melihat pemandangan setempat. Dengan memasukkan koin terlebih dahulu, maka pengunjung dapat memakai teropong sampai batas waktu yang diberikan. Di bawah kapal, terdapat taman air mancur –yang sayang untuk dilewatkan.
Ulee Lheue, tempat Kapal PLTD Apung ditambatkan.
Di depan pos jaga terdapat prasasti setinggi kurang lebih 2,5 meter. Di bagian paling atas terdapat jam bundar yang merujuk angka 07.55 WIB –waktu terjadinya tsunami. Di bawah prasasti berisi nama-nama desa dan korban jiwa. Di dekat prasasti terdapat relief terbuat dari tembaga yang berkisah terdamparnya Kapal PLTD Apung.
Monumen Kapal PLTD Apung, berisi nama desa dan korban jiwa.

Reuncong
Rencong Kerajaan
Rencongreuncong adalah senjata tajam belati tradisional Aceh, dengan bentuknya menyerupai huruf "L". Rencong memiliki tingkatan; untuk raja atau sultan biasanya sarungnya terbuat dari gading dan mata pisaunya dari emas dan berukirkan sekutip ayat suci dari Al Qur’an. Sedangkan rencong-rencong lainnya biasanya terbuat dari tanduk kerbau ataupun kayu sebagai sarungnya, dan kuningan atau besi putih sebagai belatinya.
Seperti kepercayaan keris dalam masyarakat Jawa, masyarakat tradisional Aceh menghubungkan kekuatan mistik dengan senjata rencong. Masyarakat Aceh mempercayai bahwa bentuk dari rencong mewakili simbol dari Basmalah. Rencong begitu populer di masyarakat Aceh sehingga Aceh juga dikenal dengan sebutan "Tanah Rencong".












***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar