Meningkatkan Wawasan Dengan Berbagi Pengetahuan

Rabu, 25 Desember 2013

Singkawang, Amoy di Kota Seribu Kelenteng




Kota Singkawang semula merupakan bagian dan ibukota dari wilayah Kabupaten Sambas (UU Nomor 27 Tahun 1959) dengan status Kecamatan Singkawang, dan pada tahun 1981 kota ini menjadi Kota Administratif Singkawang (PP Nomor 49 Tahun 1981). Tujuan pembentukan Kota Administratif Singkawang adalah untuk meningkatkan kegiatan penyelenggaraan pemerintahan secara berhasil guna dan berdaya guna dan merupakan sarana utama bagi pembinaan wilayah serta merupakan unsur pendorong yang kuat bagi usaha peningkatan laju pembangunan. Selain pusat pemerintahan Kota Administratif Singkawang ibukota Sambas juga berkedudukan di Kota Singkawang. Akhirnya Singkawang terwujud menjadi Daerah Otonom berdasarkan Undang-undang Nomor 12 Tahun 2001 tentang Pembentukan Kota Singkawang, diresmikan pada tanggal 17 Oktober 2001 di Jakarta oleh Menteri Dalam Negeri dan Otonomi Daerah atas nama Presiden Republik Indonesia.
Keberuntungan bagi pemula

Para Amoy Singkawang, Kalimantan Barat.
Kota Amoy
Kota Singkawang yang dikenal sebagai Kota Amoy dan China Town-nya Indonesia, karena mayoritas penduduknya (sekitar 70%) merupakan etnis Tionghoa. Amoy –sebutan gadis keturunan Tionghoa yang belum menikah dikenal dengan kecantikannya, berkulit putih, bermata sipit serta rajin bekerja. Kota Singkawang berjarak sekitar 142 kilometer dari Kota Pontianak –ibu kota Provinsi Kalimantan Barat. Etnis Tionghoa yang kebetulan berbahasa Hakka atau Khek –bukan berbahasa Mandarin atau Cantonese lebih mengenal nama Pontianak dengan nama Khuntien. Sementara itu, orang Tionghoa menyebut Singkawang dengan kata: San Keuw Jong (Bahasa Hakka), dulunya merupakan tempat singgah para pedagang dan penambang emas Tionghoa dari Monterado –sekarang, Kabupaten Bengkayang. Melihat perkembangan Singkawang yang dinilai oleh mereka yang cukup menjanjikan, sehingga antara penambang tersebut beralih profesi ada yang menjadi petani dan pedagang di Singkawang yang pada akhirnya para penambang tersebut tinggal dan menetap di Singkawang.
Luas wilayah Kota Singkawang: 504 km², dengan koordinat di antara 0°44’55,85” hingga 1°01’21,51" Lintang Selatan dan 108°051’47,6” hingga 109°010’19” Bujur Timur.
Pasar Hongkong, Jalan Pangeran Diponegoro - Singkawang.

Para Amoy Singkawang yang ramah
Pantai Pasir Panjang Indah
Pantai Pasir Panjang Indah terletak di Kecamatan Tujuh Belas, Kota Singkawang, Provinsi Kalimantan Barat. Mengunjungi kota yang berbatasan langsung dengan Negara Bagian Serawak, Malaysia ini, tentu belum lengkap bila belum mengunjungi pantai ini. Dari pusat Kota Singkawang, Pantai Pasir Panjang Indah berjarak sekitar 17 kilometer. Pengunjung dapat mengaksesnya dengan menggunakan taksi, bus, atau minibus. Pantai yang menjadi ikon pariwisata Kota Singkawang ini telah dikembangkan menjadi sebuah paket wisata terpadu bernama Taman Pasir Panjang Indah (TPPI). Dinamakan dengan Pantai Pasir Panjang karena pantainya membentang panjang melengkungi laut lepas. Air laut yang jernih, menambah kecantikan panorama pantai ini. Banyak pengunjung yang datang berenang di pantai ini. Tidak hanya itu saja, momen matahari terbenam –sunset di pantai ini sangatlah indah. Tidak heran bila pantai ini ramai di sore hari. Pengunjung yang tidak terbiasa berenang di pantai, dapat berenang di kolam renang yang tersedia. Sedangkan bagi yang tidak suka berenang ataupun berjemur, dapat mengelilingi pantai dengan naik banana boat. Pengunjung yang membawa anak-anaknya, tetap bisa bersenang-senang karena di kawasan ini tersedia arena bermain anak-anak.
Taman Pasir Panjang Indah, Singkawang - Kalimantan Barat.
Dari tepi Pantai Pasir Panjang Singkawang, pengunjung dapat menikmati panorama laut biru berlatar kaki langit yang juga biru. Samar-samar di kejauhan membias hijau Pulau Lemukutan, Pulau Kabung, dan Pulau Randayan yang dipagari perairan Laut Natuna. Hamparan pasir pantainya yang luas dan bersih menjadikan kawasan ini nyaman digunakan untuk berjemur atau melakukan aktivitas olahraga, seperti voli pantai dan sepak bola pantai. Dengan ditemani deretan Gunung Besi dan pepohonan yang menaunginya, semakin menambah keelokan dan kekhasan wilayah wisata ini.

Vihara Tri Dharma Bumi Raya
Mencoba Peruntungan di Vihara
Kota Singkawang juga dikenal dengan sebutan Kota Seribu Kuil –Kelenteng, karena di setiap sudut kota ini dapat ditemui banyak bangunan vihara atau lebih dikenal sebagai kelenteng atau pekong. Vihara Tri Dharma Bumi Raya yang berlokasi di Jalan Sejahtera (Pasar Tengah) ini adalah vihara tertua di Singkawang yang didirikan tahun 1878. Pada tahun 1930 (atau 1936 ?), vihara ini sempat terbakar sehingga dilakukan renovasi ulang. Penduduk setempat menyebut Vihara Tri Dharma Bumi Raya dengan sebutan Tai Pak Kung atau Tua Pek Kong (Toa Pekong). Bangunan ini memiliki arsitektur yang khas, didominasi warna merah dan hiasan liong.
Ketika datang ke Vihara Dharma Bumi Raya ini, maka kita akan dirasakan suasana sakral pada bangunan tua ini. Sedikitnya, umur vihara ini telah mencapai 200 tahun. Salah satu ciri khas yang membedarakan vihara ini dengan yang lainnya adalah patung Dewa Bumi itu sendiri. Simbol kekuasaan dan keberuntungan Yu Ri diletakkan di tangan kanan sang dewa. Di tempat lain, patung Dewa Bumi diperlihatkan memegang botol arak. Selain itu, terdapat patung Tua Pek Kong dibagian dalam klenteng yang menjadi tempat sembahyang pada waktu sore setiap harinya. Total ada 6 patung Tua Pek Kong yang dimiliki oleh klenteng ini. Patung yang terbuat dari bahan baku kayu tersebut, didatangkan langsung dari Tiongkok.
Depan Vihara, Singkawang - Kalbar.
Di Dalam Vihara
Klenteng yang berada di pusat Kota Singkawang ini, dipercaya merupakan tempat bersemayamnya Dewa Bumi Raya. Ini adalah Dewa pelindung Kota Singkawang menurut kepercayaan penganutnya. Setiap tahunnya dirayakan hari ulang tahun Dewa Bumi Raya yang jatuh pada tanggal 6 Juni. Perayaan ini dilaksanakan dengan bersembahyang di Vihara Dharma Bumi Raya. Selain itu karena sejarahnya, kelenteng tertua di Kota Singkawang ini menjadi pusat kegiatan pada saat Festival Cap Go Meh pada pergantian tahun baru. Dalam perayaan Cap Go Meh, berbagai macam Tatung atau Louya keliling kampung. Disebutkan bahwa ada binatang buas bernama Nian Show yang datang pada setiap pergantian tahun. Binatang ini akan memangsa makhluk hidup apa saja, termasuk manusia. Oleh karena itulah, dinyalakan petasan yang suara dan cahayanya diharapkan bisa menakuti Nian Show dan pada akhirnya membuat binatang tersebut melarikan diri. Selagi kembang api terus dinyalakan seperti yang bisa disaksikan di langit sekitar vihara, pengunjung terus berdatangan ke vihara. Tidak hanya orang dewasa yang terlihat datang, namun juga ada anak kecil yang dibawa oleh orangtua mereka untuk bersembahyang di vihara. Banyak dari anak kecil ini yang menggunakan pakaian berwarna merah. Ternyata tradisi menggunakan pakaian merah pada saat pergantian tahun baru Imlek, masih berhubungan dengan Nian Show. Selain takut dengan petasan, binatang buas bernama Nian Show ini juga takut dengan warna merah. Oleh karena itu sudah semenjak lama warna merah ini menemani waktu pergantian tahun. Seperti yang terlihat di rumah-rumah masyarakat yang bagian dindingnya dihias dengan kertas berwarna merah. Selain itu, ada juga kain dengan warna merah yang turut digantung pada saat perayaan tahun baru. Berdasarkan tradisi etnis Tionghoa, sambil menunggu pergantian tahun, mereka akan menutup rapat pintu dan jendela rumah mereka. Untuk melindungi keluarga mereka dari ancaman makhluk jahat yang keluar pada saat pergantian tahun.
Mengiringi Dewi Kwan In

Vihara Tri Dharma Bumi Raya, Singkawang - Kalimantan Barat.
Liong Vihara, Singkawang.
Setelah berdoa di Vihara, Sang Dewa langsung mengabulkan permintaan kita.
Kuliner
Tak hanya ayam goreng, ikan bawal bun, hekeng dan cap chay. Masakan asam pedas, mie tia, nasi ayam dan mie pangsit juga merupakan masakan khas penduduk Tionghoa Singkawang dan sekitarnya. Tapi yang terkenal di Singkawang adalah: Tahu –sangat renyah dan lezat.
Kuliner khas Singkawang lainnya yang patut dicoba, seperti: bubur tahu, mie asin, chai pow phan, rujak tionghoa, bakso singkawang, bubur babi, bubur sapi, dan ditutup oleh air tahu atau liang teh yang terkenal.  Yang lainnya, seperti: Kopi Tarik; Bubur Pedas  Warung Bendahre; Choi Pow Phan; Kue Tiaw goring; Mie Goreng Dian; Liang Tea; Sotong Pangkung; Kue Bulan; Kue Keranjang; Tan Huang Su; Jiu Tui Tau Sa; Gu Jin Pia; Tau Sa Kuh Putih; dan Bubur Gunting.
Buah 'Berduri' Durian, Kalimantan Barat.
Masih belum cukup umur, untuk makan dengan kulitnya.




***

3 komentar:

  1. pengen jln2 ke singkawang haaaa

    BalasHapus
  2. 3 jam dari pontianak.... jalannya mulus (okt 2014)

    BalasHapus
  3. 3 jam dari pontianak.... jalannya mulus (okt 2014)

    BalasHapus