Meningkatkan Wawasan Dengan Berbagi Pengetahuan

Selasa, 24 Desember 2013

Secuil Surga di Ujung Barat Pulau Jawa



"lojor teu meunang dipotong, pondok teu meunang disambung, gunung teu meunang dilebur, lebak teu meunang dirakak, mun ngadék kudu saclékna mun neukteuk kudu sateukna mun nilas kudu saplasna, nu lain dilainkeun nu enya dienyakeun ulah gorok ulah linyok".
panjang tidak boleh dipotong, pendek tidak boleh disambung, gunung tidak boleh dihancurkan, lembah tidak boleh dirusak, kalau menebang harus pas, kalau memotong harus sesuai ukurannya, kalau mengelupas harus sepasnya, yang salah nyatakan salah, yang benar nyatakan benar, tidak boleh menipu dan berbohong.
(kearifan hidup Masyarakat Baduy)

Provinsi Banten dulunya merupakan bagian dari Provinsi Jawa Barat, namun dipisahkan sejak tahun 2000, dengan keputusan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2000. Pusat pemerintahannya berada di Kota Serang. Wilayah Banten terletak di antara 5º7'50" hingga 7º1'11" Lintang Selatan dan 105º1'11" hingga 106º7'12" Bujur Timur, dengan luas wilayah 9.160,70 km².
Secara administratif, Provinsi Banten terdiri dari: 4 kabupaten dan 4 kota, 154 kecamatan, 262 kelurahan, dan 1.273 desa. Keempat kabupaten tersebut, yaitu: Kabupaten Lebak ber-ibukota di Rangkasbitung; Kabupaten Pandeglang ber-ibukota di Pandeglang; Kabupaten Serang ber-ibukota di Ciruas; dan Kabupaten Tangerang ber-ibukota di Tigaraksa. Sedangkan 4 kota: Kota Cilegon; Kota Serang; Kota Tangerang; dan Kota Tangerang Selatan.

Kantor Gubernur Banten, Jalan Bigjen KH. Syam'un Nomor 5 Serang - Banten.
Kantor Bupati Serang, Jalan Veteran Nomor 1 Kota Serang - Banten.

Bantam
Banten –dulu dikenal dengan nama Bantam merupakan sebuah daerah dengan kota pelabuhan yang sangat ramai, serta dengan masyarakat yang terbuka dan makmur. Banten pada abad ke-5 merupakan bagian dari Tarumanagara –sebuah kerajaan bercorak Hindu yang berkedudukan di Pakuan Bogor. Salah satu prasasti peninggalan Tarumanagara adalah Prasasti Cidanghiyang –Prasasti Lebak, yang ditemukan di Kampung Lebak di tepi Ci Danghiyang, Kecamatan Munjul, Pandeglang, Banten. Prasasti ini baru ditemukan tahun 1947 dan berisi 2 baris kalimat berbentuk puisi dengan huruf Pallawa dan bahasa Sanskerta. Isi prasasti tersebut mengagungkan keberanian Raja Purnawarman. Setelah runtuhnya Tarumanagara, kekuasaan di bagian Barat Pulau Jawa –mulai dari Ujung Kulon sampai Ci Serayu dan Kali Brebes dilanjutkan oleh Kerajaan Sunda. Seperti dinyatakan oleh Tome Pires, penjelajah Portugis pada tahun 1513, Banten menjadi salah satu pelabuhan penting dari Kerajaan Sunda. Menurut sumber Portugis tersebut, Banten adalah salah satu pelabuhan kerajaan itu selain Pelabuhan Pontang, Cigede, Tamgara –Tangerang, Kalapa, dan Cimanuk.
Peta Bantam/Banten, tahun1935.
Pada tahun 1579, Maulana Yusuf –penerus Maulana Hasanuddin dari Kesultanan Banten, menghancurkan Pakuan Pajajaran –ibukota Kerajaan Sunda. Batu Palangka Sriman Sriwacana –tempat duduk kala seorang raja dinobatkan, diboyong dari Pakuan Pajajaran ke Surasowan di Banten oleh pasukan Maulana Yusuf. Batu berukuran 200 x 160 x 20 cm itu terpaksa diboyong ke Banten karena tradisi politik waktu itu "mengharuskan" demikian. Pertama, dengan dirampasnya Palangka tersebut, di Pakuan tidak mungkin lagi dinobatkan raja baru. Kedua, dengan memiliki Palangka itu, Maulana Yusuf merupakan penerus kekuasaan Kerajaan Sunda yang "sah" karena buyut perempuannya adalah puteri Sri Baduga Maharaja –Raja Kerajaan Sunda. Dengan dihancurkannya Pajajaran, maka Banten mewarisi wilayah Lampung dari Kerajaan Sunda.
Denah Kota Bantam/Banten oleh Francois Valentijn, tahun 1724.
Ketika sudah menjadi pusat Kesultanan Banten, sebagaimana dilaporkan oleh J. de Barros: “Banten merupakan pelabuhan besar di Asia Tenggara, sejajar dengan Malaka dan Makassar. Kota Banten terletak di pertengahan pesisir sebuah teluk, yang lebarnya sampai tiga mil. Kota itu panjangnya 850 depa. Di tepi laut, kota itu panjangnya 400 depa; masuk ke dalam ia lebih panjang. Melalui tengah-tengah kota ada sebuah sungai yang jernih, di mana kapal jenis jung dan gale dapat berlayar masuk. Sepanjang pinggiran kota ada sebuah anak sungai, di sungai yang tidak seberapa lebar itu hanya perahu-perahu kecil saja yang dapat berlayar masuk. Pada sebuah pinggiran kota itu ada sebuah benteng yang dindingnya terbuat dari bata dan lebarnya tujuh telapak tangan. Bangunan-bangunan pertahanannya terbuat dari kayu, terdiri dari dua tingkat, dan dipersenjatai dengan senjata yang baik. Di tengah kota terdapat alun-alun yang digunakan untuk kepentingan kegiatan ketentaraan dan kesenian rakyat dan sebagai pasar di pagi hari. Istana raja terletak di bagian Selatan alun-alun. Di sampingnya terdapat bangunan datar yang ditinggikan dan beratap, disebut Srimanganti, yang digunakan sebagai tempat raja bertatap muka dengan rakyatnya. Di sebelah Barat alun-alun didirikan sebuah masjid agung”.
Batu Palangka Sriman Sriwacana - Watu Gilang, di depan Keraton Surasowan Banten.
Pada awal abad ke-17 Masehi, Banten merupakan salah satu pusat perniagaan penting dalam jalur perniagaan internasional di Asia. Tata administrasi modern pemerintahan dan kepelabuhan sangat menunjang bagi tumbuhnya perekonomian masyarakat. Daerah kekuasaannya mencakup juga wilayah yang sekarang menjadi Provinsi Lampung. Ketika orang Belanda tiba di Banten untuk pertama kalinya –sebelumnya, orang Portugis telah lama masuk ke Banten, kemudian orang Inggris mendirikan loji di Banten dalam persaingan antara pedagang Eropa ini, Belanda muncul sebagai pemenang. Orang Portugis melarikan diri dari Banten (1601), setelah armada mereka dihancurkan oleh armada Belanda di perairan Banten. Orang Inggris pun tersingkirkan dari Batavia (1619) dan Banten (1684).
Pada 1 Januari 1926, pemerintah Hindia Belanda mengeluarkan peraturan untuk pembaharuan sistem desentralisasi dan dekonsentrasi yang lebih luas. Di Pulau Jawa dibentuk pemerintahan otonom provinsi. Provincie West Java adalah provinsi pertama yang dibentuk di wilayah Hindia Belanda yang diresmikan dengan surat keputusan tanggal 1 Januari 1926, dan diundangkan dalam Staatsblad (Lembaran Negara) 1926 No. 326, 1928 No. 27 jo No. 28, 1928 No. 438, dan 1932 No. 507. Banten menjadi salah satu keresidenan yaitu Bantam Regentschappen dalam Provincie West Java di samping Batavia, Buitenzorg (Bogor), Preanger (Priangan), dan Cirebon.

Gadis Baduy sedang menenun
Baduy
Di Provinsi Banten terdapat Suku Baduy. Suku Baduy Dalam merupakan suku asli Sunda Banten yang masih menjaga tradisi antimodernisasi, baik cara berpakaian maupun pola hidup lainnya. Suku Baduy-Rawayan tinggal di kawasan Cagar Budaya Pegunungan Kendeng seluas 5.101,85 hektar di daerah Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak. Perkampungan masyarakat Baduy umumnya terletak di daerah aliran Sungai Ciujung di Pegunungan Kendeng. Daerah ini dikenal sebagai wilayah tanah titipan dari nenek moyang, yang harus dipelihara dan dijaga baik-baik, tidak boleh dirusak.
Bukan 'Gadis Baduy' Biasa
Diantara orang Baduy, Banten.
Gadis cilik Baduy
"Urang Kanekes" Baduy

Obyek Wisata
Masjig Agung Banten. Masjid Agung Banten terletak di Desa Banten Lama, Kecamatan Kasemen, Kota Serang –sekitar 10 km sebelah Utara Kota Serang. Perjalanan dari Terminal Pakupatan, Serang, menuju ke lokasi masjid memerlukan waktu sekitar setengah jam. Masjid ini merupakan situs bersejarah peninggalan Sultan Maulana Hasanuddin, putera Sunan Gunung Jati, sekitar tahun 1552-1570 M. Selain sebagai obyek wisata ziarah –terdapat makam-makam kesultanan Banten, Masjid Agung Banten juga merupakan obyek wisata pendidikan dan sejarah. Kita dapat menyaksikan peninggalan bersejarah kerajaan Islam di Banten pada abad ke-16 M, serta melihat keunikan arsitekturnya yang merupakan perpaduan gaya Hindu, Jawa, Cina, dan Eropa.
Danau Tasikardi. Danau Tasikardi terletak di Desa Margasana, Kecamatan Kramatwatu, Kabupaten Serang –sekitar 6 km di sebelah Barat Kota Serang. Dari Kota Serang –ibukota Provinsi Banten, pengunjung dapat mengakses Danau Tasikardi dengan naik angkutan kota jurusan Kramatwatu. Danau tersebut dibuat pada masa pemerintahan Panembahan Maulana Yusuf (1570-1580 M) –sultan kedua Kesultanan Banten. Konon, danau yang luasnya mencapai 5 hektar dan bagian dasarnya dilapisi dengan ubin batu bata ini, dahulunya, merupakan tempat peristirahatan sultan-sultan Banten bersama keluarganya.
Desa Wisata Sawarna. Secara administratif, Desa Wisata Sawarna masuk dalam wilayah Kampung Gendol, Kecamatan Bayah, Kabupaten Lebak. Desa Sawarna terkenal sebagai desa wisata yang mempunyai berbagai destinasi wisata, seperti: pantai, sungai, hutan, panjat tebing, gua, dan agrowisata yang ramai dikunjungi oleh turis domestik dan mancanegara pada akhir pekan dan hari-hari libur lainnya. Bagi pecinta gua –dari banyak gua yang ada, Guha Lalay dan Guha Lauk merupakan dua gua yang populer dan sering dikunjungi oleh para wisatawan. Kita dapat berpetualang menyusuri kedalaman gua sambil menikmati pemandangan stalagmit dan stalaktitnya yang mempesona. Sedangkan bagi pengunjung yang ingin menikmati panorama pantai –untuk berjemur, sepak bola dan voli pantai, bahkan berselancar atau sekedar menanti detik-detik menjelang terbenamnya matahari (sunset), tinggal datang ke Pantai Ciantir (juga populer dengan nama Pantai Sawarna) dan Pantai Tanjung Layar sebagai pantai yang banyak dikunjungi wisatawan. Bagi wisatawan yang ingin menikmati suasana yang berbeda, dapat melakukan kegiatan agrowisata di areal persawahan, mencari batu-batu hias yang banyak terdapat di Sungai Cisawarna, mengunjungi tempat pelelangan ikan, melakukan olahraga panjat tebing, atau melihat kekayaan flora dan fauna hutan suaka alam yang terletak di sebelah Timur desa. Sedangkan bagi wisatawan yang punya banyak waktu, dapat mengunjungi sentra pembuat gula kelapa, sentra pengrajin gitar dan biola, makam Jean Louis Van Gought, dan Tapak Si Kabayan.
Taman Nasional Ujung Kulon. Kawasan Taman Nasional Ujung Kulon masuk wilayah administrasi Kecamatan Sumur, Kabupaten Pandeglang. Taman ini merupakan cikal-bakal beberapa taman nasional di Indonesia, seperti Taman Nasional Bunaken di Sulawesi Utara atau kawasan Taman Nasional Gunung Leuser di Nanggroe Aceh Darussalam dan Sumatera Utara. Selain nilai historisnya, kawasan ini memiliki zona inti seluas kurang lebih 120.551 ha yang terbagi menjadi 76.214 ha berupa daratan dan 44.337 ha berupa lautan dan daerah berbatu karang. Zona inti yang berfungsi sebagai cagar alam dan suaka margasatwa ini memiliki berbagai macam keistimewaan, di antaranya keanekaragaman jenis biota laut, darat, dan satwa langka.
Klenteng Tandjung Kait. Klenteng Tandjung Kait terletak di Dusun Tanjung Anom, Desa Tanjung Kait, Kecamatan Mauk, Kabupaten Tangerang. Klenteng yang dibangun pada tahun 1792 M ini juga disebut sebagai Klenteng Tjo Soe Kong. Menurut masyarakat setempat, sejak tahun 1960 M banyak orang yang datang untuk sembahyang dan berdoa ke kelenteng ini, baik dari dalam negeri maupun dari luar negeri. Selain sebagai tempat sembahyang dan berdoa, klenteng ini juga dipercaya sebagai tempat yang tepat untuk meramal nasib. Klenteng Tanjung Kait memiliki sumber mata air (sumur) yang telah berumur ratusan tahun dan merupakan sumber kehidupan bagi masyarakat di sekitarnya. Sumber mata air ini tidak habis airnya walaupun diambil secara terus menerus dalam jumlah yang besar. Banyak pengunjung yang datang mengambil air sumur itu, karena dipercaya mengandung banyak berkah bagi yang menggunakannya.
Taman Wisata Alam Pulau Sangiang. Taman Wisata Alam Pulau Sangiang terletak di Desa Cikoneng, Kecamatan Anyer, Kabupaten Serang. Dari Kota Serang, pengunjung dapat naik bus atau kendaraan pribadi menuju arah Cilegon. Kemudian, perjalanan dilanjutkan menuju Anyer, dan berhenti di kawasan Pantai Manuk di Desa Cikoneng. Dari Pantai Manuk, perjalanan dilanjutkan dengan naik kapal atau perahu motor ke Pulau Sangiang dengan waktu tempuh sekitar satu jam. Kawasan yang dikenal dengan julukan Seven Wonders of Banten (Tujuh Keajaiban Banten) ini memadukan wisata alam, wisata sejarah, dan wisata ilmiah. Dimana kawasan ini terdapat berbagai flora dan fauna langka. Selain itu, juga memiliki berbagai kekayaan ekosistem, seperti terumbu karang, hutan bakau (mangrove), dan hutan pantai. Pada sisi Barat Laut dan Selatan Pulau Sangiang, serta di sepanjang Pantai Batu Mandi dan Gunung Gede, merupakan kawasan wisata alam yang menantang dan sekaligus mengasyikkan. Kawasannya yang luas dan didukung oleh kontur medan yang beragam, memberi cukup ruang kepada pengunjung untuk melakukan berbagai kegiatan, seperti olahraga lintas alam, mendaki gunung, menyusuri lembah, bersepeda, berkemah, memotret, serta menikmati panorama pantai yang landai dan curam. Bagi peminat scuba diving, snorkling, berjemur, memancing, berperahu, serta melihat keindahan terumbu karang dan taman laut dengan glass bottom boat, dianjurkan mengunjungi kawasan Tanjung Raden, Legon Waru, dan perairan laut selatan yang terdapat di dalam Pulau Sangiang. Untuk menikmati wisata sejarah, pengunjung dapat mendatangi kawasan di sekitar Pos TNI Angkatan Laut. Di sana, pengunjung masih dapat menyaksikan sisa-sisa peninggalan perang dunia kedua, seperti meriam dan benteng pertahanan tentara Jepang dari serbuan tentara Sekutu.
Pantai Anyer. Pantai Anyer berada dalam wilayah administratif Kecamatan Anyer, Kabupaten Serang. Pantai Anyer dikenal luas sebagai tempat wisata yang menarik sejak tahun 1980-an. Keberadaannya sebagai salah satu dari Seven Wonders of Banten dan lokasinya yang tidak terlalu jauh dari Jakarta, membuat kawasan ini menjelma sebagai salah satu obyek wisata favorit saat ini.
Pantai Carita. Secara administratif, Pantai Carita masuk dalam wilayah Kecamatan Labuan, Kabupaten Pandeglang. Letaknya strategis, karena berada di tepi Jalan Raya Carita-Labuan yang merupakan salah satu jalur utama yang menghubungkan tempat-tempat wisata di kawasan pantai Barat Banten, sehingga memudahkan wisatawan untuk mengaksesnya. Di sini, pengunjung dapat melakukan berbagai kesenangan seperti berjemur, olahraga pantai, bermain pasir, berenang, memancing atau menyewa perahu, jetski, speed boat, dan banana boat. Pada siang hari, wisatawan dapat mengunjungi kawasan taman laut yang bisa ditempuh sekitar dua jam dengan menggunakan perahu motor dari Pantai Carita. Ketika mulai senja, pemandangan matahari tenggelam –sunset dengan Kepulauan Krakatau sebagai lanskapnya merupakan daya tarik lain kawasan Pantai Carita.
Pasir Putih, Pantai Carita.
Pantai Karang Bolong. Secara administratif, Pantai Karang Bolong masuk dalam wilayah Desa Karang Bolong, Kecamatan Anyer, Kabupaten Serang. Selain panorama khas pantai, pantai ini memiliki daya tarik pada batu karang besar berbentuk setengah lingkaran yang bagian tengahnya berlubang. Selain itu, terdapat juga batu karang-batu karang kecil yang berada di sepanjang pantainya. Oleh karena itu, mengintip laut biru dengan riak ombak yang susul-menyusul dari balik batu karang yang berlubang merupakan tujuan utama wisatawan mengunjungi pantai ini. Batu karang besar tersebut juga dijadikan wisatawan sebagai latar untuk berfoto. Sedangkan duduk di atas batu karang-batu karang kecil adalah salah satu cara wisatawan menikmati kawasan pantai ini.
Pantai Tanjung Lesung. Pantai Tanjung Lesung terletak di Desa Tanjung Jaya, Kecamatan Panimbang, Kabupaten Pandeglang. Dinamakan Pantai Tanjung Lesung karena lokasinya berupa daratan yang menjorok ke laut mirip ujung ‘lesung’ –salah satu alat yang digunakan masyarakat tradisional Nusantara untuk menumbuk padi. Posisi pantainya yang tidak menghadap langsung ke samudera lepas membuat tiupan angin dan deburan ombak kawasan ini tidak terlalu besar, sehingga wisatawan dapat melakukan berbagai aktivitas, seperti: berenang, berperahu, bermain jetski, dan snorkling. Memancing merupakan aktivitas menarik lainnya, karena kawasan ini merupakan rumah bagi banyak ikan. Bila bosan berada di pantai, wisatawan dapat mengunjungi desa wisata yang mayoritas penduduknya berprofesi sebagai pengrajin patung badak bercula satu (fauna khas Banten) dan minuman dari daun sirih, atau melihat-lihat kehidupan nelayan di Kampung Cipanon.
Tanjung 'mirip' Lesung
Air Terjun Curug Gendang. Air Terjun Curug Gendang terletak di Kecamatan Carita, Kabupaten Pandeglang. Dari jalan raya Carita, Curug Gendang berjarak sekitar 2 km, atau sekitar 3,5 km dari Taman Wisata Alam Carita. Setelah sampai di area parkir atau pos jaga/pos retribusi, kemudian perjalanan dilanjutkan menuju Curug Gendang dengan berjalan kaki sekitar 1 km. Pada awalnya, air terjun yang berada sekitar 170 meter di atas permukaan laut dan berasal dari hulu mata air Gunung Panganjaran ini bernama Curug Citajur. Namun karena suara air terjunnya yang mirip dengan suara gendang atau tambur, masyarakat setempat kemudian menamainya Curug Gendang. Obyek wisata Curug Gendang merupakan perpaduan dari hutan yang lebat, jalan setapak yang berliku-liku, panorama alam yang indah, dan air terjun yang jernih. Ketika perjalanan sampai di punggung perbukitan, pengunjung dapat melihat hijaunya pepohonan di kaki bukit, atau menikmati eksotisme Selat Sunda dan Gunung Anak Krakatau dari kejauhan. Rasa penat selama menempuh perjalanan akan terobati begitu sampai di air terjun setinggi 7 meter dengan kedalaman 13 meter dan luas 10 meter tersebut. Suara air terjunnya yang bagai suara tambur dan air kolamnya yang bening itu memikat pengunjung untuk segera menceburkan diri ke dalamnya. Di sini, pengunjung dapat melepas lelah dan gerah dengan mencuci muka, merendam kaki, atau mandi sepuasnya. Bagi pengunjung yang ingin menguji nyalinya dapat melompat dari tebing-tebing batu yang terdapat di bagian atas Curug Gendang.
Tugu 0 Km, Anyer-Panarukan 'de Grote Postweg' di Desa Bojong Cikoneng, Anyer - Banten.

Amanat Buyut, Banten.




***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar