Meningkatkan Wawasan Dengan Berbagi Pengetahuan

Minggu, 23 Desember 2012

Monkey Forest


Pulau Kembang
Wisata Alam Pulau Kembang Barito Kuala, Kalimantan Selatan. Dokumen Pribadi.
Jika di Ubud Bali ada Monkey Forest sebagai tempat tinggal monyet, maka di Banjarmasin, Kalimantan Selatan terdapat Pulau Kembang. Pulau kecil yang terletak di tengah Sungai Barito ini menjadi tempat tinggal untuk para monyet.
Pulau Kembang adalah sebuah delta yang terletak di tengah sungai Barito yang termasuk di dalam wilayah administratif kecamatan Alalak, Kabupaten Barito Kuala, provinsi Kalimantan Selatan. Pulau Kembang terletak di sebelah Barat Kota Banjarmasin, ditetapkan sebagai hutan wisata berdasarkan SK. Menteri Pertanian No. 788/Kptsum12/1976 dengan luas 60 Ha.
Pulau Kembang merupakan habitat bagi kera ekor panjang (monyet) dan beberapa jenis burung. Kawasan pulau Kembang juga merupakan salah satu obyek wisata yang berada di dalam kawasan hutan di Kabupaten Barito Kuala.
Di dalam kawasan hutan wisata ini terdapat bangunan Klenteng dan Altar yang diperuntukkan sebagai tempat meletakkan sesaji bagi "penjaga" pulau Kembang yang dilambangkan dengan dua buah arca berwujud kera berwarna putih (Hanoman), oleh masyarakat dari etnis Tionghoa-Indonesia yang mempunyai kaul atau nazar tertentu. Sesajen seperti: pisang; telur; nasi ketan; mayang-pinang; dan beberapa jenis kembang. Seekor kambing jantan yang tanduknya dilapisi emas biasanya dilepaskan ke dalam hutan pulau Kembang apabila sebuah permohonan berhasil atau terkabul. Oleh karena sering digunakan untuk tempat berhajat dan menabur kembang, maka pulau tersebut lebih terkenal dengan nama Pulau Kembang.

Asal Muasal
Menurut cerita penduduk setempat, pulau Kembang ini dulunya merupakan sebuah kapal Cina yang bernama "Law Kem Bang" yang tersesat dan kemudian dihancurkan oleh orang-orang Biaju pada tahun 1750-an atas perintah Sultan Banjar. Lambat laun kapal tersebut ditumbuhi pepohonan dan berubahlah menjadi sebuah pulau serta dihuni oleh sekelompok kera. Orang-orang desa yang berada di sekitar pulau Kembang ini menganggap bahwa kera-kera tersebut merupakan penjelmaan makhluk halus yang memakai sarungan kera. Kelompok kera tersebut dipimpin oleh seekor kera yang sangat besar berwarna putih bernama si Anggur. Dari Law Kem Bang inilah kemudian menjadi Pulau Kembang.
Versi lainnya, pulau Kembang berasal dari kapal Inggris yang dihancurkan oleh orang Biaju pada tahun 1750-an atas perintah Sultan Banjar. Puing-puing bekas kapal tersebut lambat laun ditumbuhi pepohonan dan berubah menjadi sebuah pulau yang kemudian didiami sekelompok kera.
Kera-kera di kawasan  ini yang berjumlah ribuan, sangat akrab dengan para pengunjung. Biasanya ketika para wisatawan datang berkunjung, kera-kera tersebut banyak yang menunggu di dermaga, menunggu para wisatawan memberi mereka makanan seperti pisang, kacang, dan sebagainya.
Tidak sulit untuk berkunjung ke pulau ini, kawasan ini berjarak sekitar 1,5 km dari Kota Banjarmasin. Dari Pasar Terapung di Sungai Barito, tinggal menyewa perahu (perahu klotok sewaan) dari Sungai Kuin Utara. Anda bisa mendapatkan paket perjalanan mengelilingi Pasar Terapung dan berkunjung ke Pulau Kembang, waktu yang dibutuhkan untuk sampai ke lokasi sekitar 15 menit.

Sarapan di Warung Perahu di Sungai Kuin Barito. Dokumen Pribadi.
Bekantan
Pulau Kembang ini ditempati oleh ratusan –bahkan ribuan monyet dan beberapa jenis unggas (burung). Bila beruntung, pengunjung dapat bertemu dengan salah satu spesies monyet yang menjadi maskot fauna Kalimantan Selatan; yakni: Bekantan (Nasalis Larvatus). Monyet ini berhidung panjang; berambut cokelat kemerah-merahan; dan memiliki sifat pemalu.
Satu hal yang harus Anda ingat, jangan lupa membeli makanan (pisang atau kacang-kacangan) di Pasar Terapung untuk dibagikan kepada monyet-monyet di Pulau Kembang ini.

Menyusuri Sungai Kuin Barito dengan perahu klotok. Dokumen Pribadi.
Masjid Agung Al Karomah Martapura
Masjid Agung Al Karomah adalah masjid besar yang terletak di Kota Martapura, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan dan merupakan masjid terbesar di Kalimantan Selatan. Masjid ini juga merupakan markah tanah dari Kota Martapura dan mudah diakses dari seluruh kota di Kalimantan Selatan karena terletak di Jalan Ahmad Yani yang merupakan jalan utama –jalan nasional antar kota, terutama dari Kalimantan Timur –arah Utara hingga Kota Banjarmasin.
Sebagai pusat Kerajaan Banjar, Martapura tercatat menjadi saksi 12 sultan yang memerintah. Pada waktu itu masjid berfungsi sebagai: tempat peribadatan, dakwah Islamiyah, integrasi umat Islam dan markas atau benteng pertahanan para pejuang dalam menentang Belanda. Akibat pembakaran Kampung Pasayangan dan Masjid Martapura, muncul keinginan membangun Masjid yang lebih besar. Tahun 1280 Hijriyah (1863 M), pembangunan masjid pun dimulai.
Masjid Agung Al Karomah Martapura, Banjar - Kalimantan Selatan. Dokumen Pribadi.
Masjid Agung Al Karomah, dulunya bernama adalah Masjid Jami’ Martapura, yang didirikan oleh panitia pembangunan masjid yaitu HM. Nasir, HM. Taher (Datu Kaya), HM. Apip (Datu Landak). Kepanitiaan ini didukung oleh Raden Tumenggung Kesuma Yuda dan Mufti HM Noor.
Menurut riwayatnya, Datuk Landak dipercaya untuk mencari kayu Ulin sebagai sokoguru masjid, ke daerah Barito, Kalimantan Tengah. Setelah tiang ulin berada di lokasi bangunan masjid, lalu disepakati tepat 10 Rajab 1315 H (5 Desember 1897 M) dimulailah pembangunan Masjid Jami’ tersebut. Secara teknis bangunan masjid tersebut adalah bangunan dengan struktur utama dari kayu ulin dengan atap sirap, dinding dan lantai papan kayu ulin. Seiring dengan perubahan masa dari waktu ke waktu, masjid tersebut selalu di renovasi –tapi struktur utamanya tidak berubah.
Malam Senin 12 Rabiul Awal 1415 H dalam perayaan hari kelahiran Nabi Besar Muhammad SAW, Masjid Jami’ Martapura diresmikan menjadi Masjid Agung Al Karomah. Saat ini Masjid Agung Al Karomah berdiri megah dengan konstruksi beton dan rangka atapnya terbuat dari baja stainless, yang terangkai dalam struktur space frame. Untuk kubahnya dilapisi dengan bahan enamel.
Alun-alun Martapura. Dokumen Pribadi.
Di dalam masjid –sampai saat ini masih dapat ditemukan dan dilihat struktur utama Masjid Jami Martapura yang tidak dibongkar, sehingga dapat dilihat sebagai bukti sejarah mulai berdirinya masjid tersebut.
Dilihat dari segi arsitekturnya, bentuk Masjid Agung Al Karomah Martapura mengikuti Masjid Demak buatan Sunan Kalijaga. Miniaturnya dibawa Utusan Desa Dalam Pagar dan ukurannya sangat rapi serta mudah disesuaikan dengan bangunan sebenarnya –telah menggunakan skala.
Sampai saat ini bentuk bangunan masjid –menurut K.H. Halilul Rahman, Sekretaris Umum di kepengurusan masjid, sudah mengalami tiga kali rehab. Dengan mengikuti bentuk bangunan modern dan Eropa, sekarang Masjid Agung Al Karomah Martapura terlihat lebih megah. Meski bergaya modern, empat tiang Ulin yang menjadi Saka Guru –peninggalan bangunan pertama masjid, masih tegak di tengah. Tiang ini dikelilingi puluhan tiang beton yang menyebar di dalam masjid.
Arsitektur Masjid Agung Al Karomah Martapura yang menelan biaya Rp. 27 miliar –pada rehab terakhir sekitar tahun 2004, banyak mengadopsi bentuk Timur Tengah. Seperti: atap Kubah Bawang dan ornamen gaya Belanda. Semula, atap masjid berbentuk Kerucut dengan konstruksi beratap Tumpangbergaya masjid tradisional Banjar, setelah beberapa kali rehab akhirnya berubah menjadi bentuk Kubah.
Bila arsitektur bangunan banyak berubah, namun mimbar tempat khatib berkhutbah yang berumur lebih satu abad sampai sekarang berfungsi. Mimbar berukiran untaian kembang dan berbentuk panggung dilengkapi tangga yang sampai sekarang masih berfungsi dan diarsiteki H.M Musyafa.
Pola ruang pada Masjid Agung Al Karomah juga mengadopsi pola ruang dari arsitektur Masjid Agung Demak yang dibawa bersamaan dengan masuknya agama Islam ke daerah ini oleh Khatib Dayan. Karena mengalami perluasan, arsitektur Masjid Agung Demak hanya tersisa dari empat tiang ulin atau disebut juga tiang guru empat dari bangunan lama.
Bangunan asli Masjid Jami Martapura (Al Karomah) pada jaman pendudukan Belanda, sekitar tahun 1910-1940.
Tiang guru adalah tiang-tiang yang melingkupi ruang Cella atau ruang Keramat. Ruang Cella yang dilingkupi tiang-tiang guru terdapat di depan ruang mihrab yang berarti secara kosmologi: Cella lebih penting dari Mihrab. Menurut sejarahnya, tiang guru empat menggunakan tali alias Seradang yang ditarik beramai-ramai oleh Datuk Landak bersama masyarakat. Atas kodrat dan iradat Tuhan YME, tiang Guru Empat didirikan. Masjid pertama kali dibangun berukuran 37,5 meter x 37,5 meter.



Sakti Peksos.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar