Meningkatkan Wawasan Dengan Berbagi Pengetahuan

Jumat, 03 Januari 2014

Serumpun Sebalai di Kota Timah



Serumpun Sebalai adalah suatu bentuk etika kehidupan keseharian masyarakat Bangka Belitung yang rukun damai dan dalam hubungan kekeluargaan, walaupun terdiri dari bermacam-macam etnis dan agama. Meskipun masyarakat Bangka Belitung merupakan masyarakat yang Dak Kawa Nyusah (tidak mau bersusah payah), hal tersebut bukanlah sebagai ungkapan yang menunjukkan masyarakatnya itu adalah orang yang pemalas dan tidak mau bekerja keras, namun bermakna: dalam setiap keberhasilan memerlukan kerja keras.
Parai Beach Resort, Sungailiat - Bangka.

Provinsi Kepulauan Bangka Belitung merupakan provinsi di Indonesia yang terdiri dari dua pulau utama, yaitu: Pulau Bangka dan Pulau Belitung –Belitong serta pulau-pulau kecil lainnya, seperti: Pulau Lepar; Pulau Pongok; Pulau Mendanau; dan Pulau Selat Nasik. Total pulau yang telah bernama berjumlah 470 buah dan yang berpenghuni hanya 50 pulau. Kota Pangkal Pinang, merupakan ibukota Provinsi Kepulauan Bangka Belitung –berada di Pulau Bangka, sebelumnya merupakan ibukota Kabupaten Bangka, pada tahun 1971 ibukota Kabupaten Bangka pindah ke Sungailiat. Posisi geografis provinsi ini adalah antara: 1º50' hingga 3º10' Lintang Selatan dan 105º hingga 108º Bujur Timur. Provinsi Kepulauan Bangka Belitung mempunyai batas wilayah: sebelah Utara dengan Laut Natunajuga terdapat Laut Cina Selatan; sebelah Timur dengan Selat Karimatamemisahkan Pulau Belitung dengan Pulau Kalimantan; sebelah Selatan dengan Laut Jawa; dan sebelah Barat dengan Selat Bangkamemisahkan Pulau Sumatera dan Pulau Bangka. Sedangkan Selat Gaspar, memisahkan Pulau Bangka dengan Pulau Belitung. Secara keseluruhan daratan dan perairan Bangka Belitung merupakan satu kesatuan dari bagian dataran Sunda, sehingga perairannya merupakan bagian Dangkalan Sunda (Sunda Shelf) dengan kedalaman laut tidak lebih dari 30 meter.
Peta Provinsi Kepulauan Bangka Belitung
Wilayah administratif Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, terbagi atas satu kota dan enam kabupaten. Kota/Kabupaten tersebut, adalah: Kota Pangkal Pinang –merupakan ibukota provinsi; Kabupaten Bangka –ber-ibukota di Sungailiat, pada tahun 2003, dimekarkan menjadi 4 kabupaten, yakni: Kabupaten Bangka Barat –ber-ibukota di Muntok/Mentok; Kabupaten Bangka Tengah –ber-ibukota di Koba; dan Kabupaten Bangka Selatan –ber-ibukota di Toboali. Oleh karena itu, Kabupaten Bangka juga dikenal sebagai Kabupaten Bangka Induk; Kabupaten Belitung –ber-ibukota di Tanjung Pandan, pada tahun 2003, dimekarkan menjadi 2 kabupaten, yakni: Kabupaten Belitung Timur –ber-ibukota di Manggar.
Kantor Gubernur Kepulauan Bangka Belitung, Jalan Pulau Bangka Nomor 1 Air Itam - Pangkal Pinang

Bangka dan Vangka
Kata Bangka berasal dari vangka atau wangka yang berarti Timah, karena wilayah ini memang kaya barang tambang timah. Setelah timah ditemukan di sini abad ke-17, membuat Bangka mendapatkan kekayaan dan terkenal sebagai penghasil timah terbesar di Indonesia. Penambangan timah sendiri berkembang pesat di Bangka sejak 1858, diketemukan dan dikelola sejak tahun 1710 oleh Mary Schommers dalam Bangka Tin.
Kehadiran bangsa Cina secara besar-besaran di Kepulauan Bangka Belitung berawal dari penambangan timah pada awal abad ke-18. Mary F Somers Heidhues dalam Bangka Tin and Mentok Pepper memaparkan, ribuan pekerja asal Cina datang secara masal sebagai kuli kontrak di penambangan timah di Bangka dan Belitung tahun 1710. Kuli kontrak itu umumnya berasal dari daerah Utara Kwantung dan Selatan Fukien, Cina, dan biasa disebut Hakka. Kadang, mereka dipanggil Xinke atau orang Khek. Selain itu, ada kaum Hokkian yang datang atas kemauan sendiri untuk berdagang. Kelompok lain yang datang adalah kelompok Hainan, Kanton, dan kelompok Techiu. Setiap kelompok, memiliki bahasa sendiri-sendiri.
Peta Pulau Bangka

Serumpun Sebalai
Serumpun, menunjukkan bahwa kekayaan alam dan plularisme masyarakat Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, tetap merupakan keluarga besar komunitas (serumpun) yang memiliki perjuangan yang sama untuk menciptakan: kesejahteraan; kemakmuran; keadilan; dan perdamaian. Sebalai, menunjukkan bahwa untuk mewujudkan perjuangan tersebut, masyarakat Provinsi Bangka Belitung: berkumpul, bermusyawarah, mufakat, bekerja sama dan bersyukur bersama-sama dalam semangat kekeluargaan (sebalai). Serumpun Sebalai mencerminkan sebuah eksistensi masyarakat Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dengan kesadaran dan cita-citanya untuk tetap menjadi keluarga besar yang dalam perjuangan dan proses kehidupannya senantiasa mengutamakan dialog secara kekeluargaan, musyawarah dan mufakat serta bekerja sama dan senantiasa mensyukuri nikmat Tuhan untuk mencapai masyarakat adil dan makmur. Serumpun Sebalai, merupakan semboyan penegakkan demokrasi melalui musyawarah dan mufakat.
Bandar Udara Depati Amir, Pangkal Pinang - Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

Depati Bahrin dan Depati Amir
Pulau Bangka sangat erat kaitannya dengan barang tambang berupa timah. Hal inilah yang menyebabkan pihak kolonial Inggris –dan kemudian Belanda, berusaha untuk dapat menguasai pulau ini. Kekuasaan Belanda mendapat perlawanan dari Depati Barin dan puteranya Depati Amir yang dikenal sebagai perang Depati Amir (1849-1851). Sebetulnya sejak kedatangan Inggris di Pulau Bangka pada tahun 1812 telah terjadi beberapa perlawanan rakyat Bangka seperti perlawanan rakyat yang dipimpin oleh Raden Kling bersama puteranya Raden Ali di distrik Toboali –termasuk Kepoh, perlawanan rakyat dipimpin Depati Bahrin di Jeruk, perlawanan rakyat dipimpin Demang Singayudha di Kotaberingin dan perlawanan rakyat dipimpin oleh Batin Tikal di Gudang.
Perlawanan besar dan terorganisir dengan baik dipimpin oleh Depati Bahrin (tahun 1820-1828). Depati Bahrin merupakan putera dari Depati Karim –Depati Anggur, dari distrik Jeruk. Untuk mengatasi perlawanan rakyat yang dipimpin oleh Depati Bahrin, Pemerintah Hindia Belanda harus mendatangkan kesatuan Kavaleri dari legiun Perang Wedono dan kesatuan infanteri di bawah pimpinan Kapten Du Perron, kemudian Belanda terpaksa harus melakukan berbagai perundingan dengan Depati Bahrin dan memberikan beberapa kompensasi untuk berkonsentrasi menghadapi perlawanan Pangeran Diponegoro di Pulau Jawa pada tahun 1825-1830. Tawaran perundingan damai kemudian diterima Depati Bahrin. Depati Bahrin wafat pada tahun 1848 dan dimakamkan di kawasan Mendara –dalam versi lain, dimakamkan di Lubuk Bunter; Desa Kimak; Kecamatan Merawang. Depati Bahrin merupakan salah satu dari Panglima Tujuh yang menguasai Pulau Bangka dengan gelar Akek Pok –Panglima Tujuh, terdiri dari: Akek Sak; Akek Pok; Akek Kuah; Akek Mis; Akek Adung; Akek Ning; dan Akek Ijah.
Depati Amir adalah putera sulung Depati Bahrin, sedangkan Hamzah adalah adik atau saudara kandung Amir. Sebagai putera sulung, Amir menjadi Depati diangkat oleh Belanda karena ketakutan Belanda akan pengaruhnya yang besar di hati rakyat Bangka. Jabatan Depati yang diberikan Belanda kepada Amir atas daerah Mendara dan Mentadai kemudian ditolaknya, akan tetapi gelar Depati tersebut kemudian tetap melekat pada diri Amir dan kemudian kepada Hamzah karena kecintaan rakyat kepada keduanya, disamping kehendak kuat rakyat Bangka yang membutuhkan pigur pemimpin. Sejak perlawanan rakyat Bangka dipimpin oleh Depati Bahrin (Tahun 1820-1828), Amir dan Hamzah sebagai putera Bahrin, sudah menjadi panglima Perang dan menunjukkan sikap kepemimpinan yang baik, yaitu sifat yang tegas, berani, cerdas dan cakap. Amir dan Hamzah membangun markas besarnya di daerah Tampui dan Belah serta di kaki Gunung Maras, namun secara pasti, pasukan terus berpindah dan bergerak diseluruh pelosok belantara Pulau Bangka. Dalam Pertempuran strategi yang digunakan adalah perang gerilya, dalam peperangan digunakannya peralatan tradisional yang disebut Pidung dan Sumpitan sebagai senjata. Dalam kondisi kurus, lemah dan sakit, Amir dan Hamzah berhasil ditangkap pada tanggal 7 januari 1851 lalu dibawa ke markas militer Belanda di Bakam, kemudian di bawa ke Belinyu pada tanggal 16 Januari 1851, selanjutnya di bawa ke Muntok/Mentok. Pada tanggal 28 Pebruari 1851, berangkatlah Amir dan Hamzah kepengasingan di Desa Airmata Kupang Pulau Timor - NTT.
Pantai Parai, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.
Parai Beach, Bangka Island.

Parai Beach Resort
Parai Beach Resort, Sungailiat - Bangka.
Pantai Parai Tenggiri terletak di daerah Matras Sungailiat, sekitar 40 km dari Bandara Depati Amir atau Pelabuhan Pangkal Balam, Pangkalpinang. Atau tepatnya di Desa Sinar Jaya, Kecamatan Sungailiat, Kabupaten Bangka, Provinsi Bangka Belitung. Komplek wisata ini dilatarbelakangi taburan formasi batu karang dan dilengkapi fasilitas wisata dengan klasifikasi hotel berbintang 4 dan berbagai sarana hiburan. Parai Tenggiri merupakan pantai paling populer dan eksklusif di Bangka Belitung. Sejak dulu –ketika masih disebut Hakok, pantai ini merupakan kawasan yang paling digemari untuk dikunjungi oleh masyarakat setempat. Bebatuan yang banyak terdapat di pantai ini, bagaikan sebuah dekorasi alam yang sangat indah. Pantainya cukup landai dan memiliki ombak yang lembut. Di pantai ini fasilitas yang tersedia antara lain hotel, outbound, restoran di atas pulau karang Rock Island, serta permainan olahraga air. Pantai Parai adalah tempat yang ideal berwisata dalam suasana santai yang menyuguhkan panorama pantai desa nelayan, berenang dan bermain air di sepanjang bibir pantai dengan pasir berwarna putih dan air laut yang hijau.
Pantai Parai, Pulau Bangka.
Pantai Parai, Sungailiat - Pangkal Pinang.
Parai Beach
Di Pantai Parai Tenggiri kita dapat melihat batu-batu granit yang besar beragam bentuk unik yang tidak dapat dijumpai di daerah lain. Konon, batuan granit tersebut merupakan sisa-sisa letupan Gunung Krakatau purba yang meletus ratusan atau bahkan ribuan tahun lalu. Bebatuan karang inilah yang membuat pemandangan di pantai ini menjadi lebih istimewa dan kerap kali mengundang decak kagum para pengunjung. Dari atas batu-batu karang, pengunjung dapat duduk santai untuk menikmati keindahan Laut Cina Selatan yang teduh dan berombak kecil. Pada malam hari, pengunjung dapat dengan leluasa menikmati suasana malam di pinggir pantai yang diwarnai cahaya dari kapal-kapal yang tengah berlayar sambil tidak lupa menikmati ubi goreng keju, pisang goreng keju, kolak labu merah, ataupun minuman hangat yang bisa dibeli di restoran terdekat. Saat ini, kawasan Pantai Parai Tenggiri ditetapkan sebagai kawasan wisata hijau dengan sebutan Parai Green Resort dengan kepedulian yang besar terhadap usaha penyelamatan lingkungan dengan cara mengurangi penggunaan bahan-bahan yang dapat mencemari pantai, seperti plastik, serta menanam banyak pohon di lokasi wisata ini.
Pantai Parai
Lanskap Pantai Parai
Parai Beach at Bangka Island
Sementara itu, Pantai Matras amat indah dan landai. Pantai ini terletak di Desa Sinar Baru, Kecamatan Sungailiat, disebelah Timur Laut Pulau Bangka dan berjarak sekitar 40 km dari Pangkal Pinang atau 7 km dari Kota Sungailiat. Keistimewaan pantai ini adalah pada pasir putihnya yang halus, nyiur yang melambai-lambai sepanjang 3 km dan aliran sungai alami. Keistimewaan lain, lokasinya yang nyaman dan tenang akan memberikan keleluasaan bagi kita untuk menyantap makanan sambil bersandar di bebatuan alam dan menikmati keindahan suasana pantai. Di kawasan Pantai Matras juga telah dibangun banyak tempat peristirahatan berupa bungalow sederhana yang nyaman. Hamparan pasir pantai ini menyatu dengan bebatuan indah di sekitarnya seperti mutiara yang terbentang di depan mata. Deburan ombak pantai yang tenang bertemu pasir putih yang lembut sungguh pemandangan yang sangat menakjubkan. Pantai Matras terdiri dari pasir putih yang halus dengan panjang sekitar 3 km, dengan lebar 20 sampai 30 meter, pantai yang dilatar-belakangi oleh pepohonan kelapa ini menampilkan pula laut yang bening dan pemandangan indah serta aliran sungai yang alami sehingga acapkali disebut sebagai Pantai Surga. Adanya aliran sungai yang mengalir ke laut dan danau kecil yang berisi air tawar di dekat bibir pantai. Airnya bening dan dangkal, sehingga biasa digunakan pengunjung untuk berbilas sehabis mandi air laut. Di salah satu sudut Pantai Matras, ada sebuah bukit granit kecil dengan pepohonan besar yang di bawahnya terdapat kuburan cina yang cukup tua.
Lanskap Pantai Parai, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.
Saat mengunjungi Pantai Matras dan Parai Tenggiri, kita bisa mampir untuk membeli oleh-oleh khas Kota Sungailiat. Tak sulit menemukan kios-kios yang menjual oleh-oleh di Sungailiat, seperti kerupuk aneka rasa yang terbuat dari cumi, ikan tenggiri, udang, siput gong-gong, kemplang panggang, keretek ikan, belacan dan lain-lain.
Vihara Dewi Kuan Yin, Sungailiat - Bangka.

Vihara Dewi Kuan Yin di Sungailiat
Vihara Dewi Kuan Yin terletak di Desa Jelitik; Kecamatan Sungailiat; Kabupaten Bangka, berjarak kurang lebih sekitar 10 km dari Kota Sungailiat. Meskipun merupakan tempat ibadah umat Budha, tempat ini lebih sering dijadikan sebagai tempat sembahyang umat Kong Hu Cu –Kong Fu Chu bagi keturunan Tionghoa di Bangka. Dimasa lalu, masyarakat keturunan Tionghoa di Bangka didatangkan oleh Belanda untuk dijadikan pekerja tambang timah pada akhir abad ke-19.

Memasuki gedung ini langsung terasa suasana religiusnya dengan berbagai sarana peribadatan umat Budha dan Kong Hu Cu, tetapi suasana akan berubah menjadi suasana wisata ketika berada di sekitar vihara. Di area tersebut terdapat banyak sekali lokasi wisata yang dimaksudkan untuk mendukung kenyamanan beribadah umat Budha dan Kong Hu Cu atau pengunjung yang hanya ingin menikmati suasana di vihara. Keistimewaan vihara ini, adalah bentuknya yang menyerupai sebuah kapal yang siap berlayar. Keistimewaan lainnya adalah tempatnya yang berada di kaki bukit dan tepi aliran sungai. Menurut kepercayaan masyarakat Tionghoa, air di aliran sungai tersebut dapat menyembuhkan penyakit, membuat awet muda, dan dapat mengabulkan segala permintaan yang diinginkan pengunjung. Sehingga, pengunjung tidak hanya bisa beribadah, merasakan suasana religius di dalam vihara dan mandi, tetapi juga bisa minum air sumur alami, yang bersih, jernih, dan segar serta mempunyai khasiat. Di vihara ini pengunjung akan dibawa berlayar menikmati keindahan alam, merasakan kejaiban alam, dan menyaksikan kebesaran Tuhan. Dengan area seluas 15.420 m2, vihara ini juga menyediakan sebuah kolam pemandian alami yang sejuk dan segar dari sumber mata air yang mengalir dari atas bukit yang mempunyai khasiat untuk kesehatan tubuh bagi mereka yang percaya. Kolam pemandian ini disebut juga dengan Kolam Tujuh Bidadari. Kolam ini dipenuhi dengan tumbuhan teratai putih. Di area vihara ini, juga disediakan wisma khusus (bangunan dengan nuansa hijau menambah sejuknya suasana) yang didirikan untuk para pengunjung yang perlu menginap.
Vihara Dewi Kuan Yin, Desa Jelitik Kecamatan Sungailiat - Bangka.

Vihara Dewi Kuan Yin, memiliki 3 bangunan sebagai tempat berdoa. Bangunan utama adalah tempat berdoa kepada Dewi Kuan Yin, bangunan kedua merupakan tempat berdoa kepada Budha, dan bangunan terakhir adalah tempat berdoa kepada Toapekong atau Dewa Laut. Jika kita datang di waktu yang tepat, kita bisa melakukan Ciamsi –ramal nasib dengan bantuan juru kunci vihara ini.
Dewi Kuan Yin adalah Dewi yang terkenal dengan kasih sayangnya terhadap manusia. Oleh karena itu, Dewi Kuan Yin juga mendapatkan julukan: Dewi Welas Asih. Berdasarkan ajaran yang berkembang terutama di Asia bagian Timur, nama Dewi Kuan Yin dipercaya berasal dari Avalokitesvara yang merupakan bahasa Sansekerta. Oleh karena itu, di luar Indonesia, Dewi Kuan Yin juga dipanggil dengan nama: Dewi Guanyin, yang merupakan terjemahan dari Avalokitesvara.
Peta Pulau Belitung

Laskar Pelangi di Belitong
Laskar Pelangi adalah novel pertama karya Andrea Hirata yang diterbitkan oleh Bentang Pustaka pada tahun 2005. Novel ini bercerita tentang kehidupan 10 anak dari keluarga miskin yang bersekolah (SD dan SMP) di sebuah Sekolah Muhammadiyah di Belitung –Belitong yang penuh dengan keterbatasan. Cerita terjadi di Desa Gantung –Gantong, Belitung Timur.
Salah satu lokasi syuting film tersebut adalah pantai indah yang ada di Pulau Belitung yaitu Pantai Tanjung Tinggi. Pantai ini terletak 30 kilometer dari kota Tanjung Pandan. Pantai yang biasa disebut Pantai Bilik oleh warga lokal ini memiliki keindahan yang sangat mempesona. Letak Pantai Tanjung Tinggi juga tidak jauh dari pantai Tanjung Kelayang di Desa Keciput, Kecamatan Sijuk. Pantai Tanjung Tinggi memiliki pasir pantai yang berwarna putih bersih yang menghampar sepanjang 100 meter. Memang garis pantai Tanjung Tinggi ini tidak sepanjang pantai lain di Belitung, namun keindahannya boleh diadu dan tak kalah dengan yang lainnya. Di pinggir pantai, terdapat beberapa warung makan yang menyajikan beberapa menu hasil laut dan kulimer khas daerah setempat "gangan".
Pada 11 Juni 2011, Pelabuhan Tanjung Pandan Belitung resmi berubah nama menjadi Terminal Penumpang Pelabuhan Laskar Pelangi –Pelabuhan Laskar Pelangi. Peresmian pelabuhan tersebut oleh PT. Pelindo II karena terinspirasi oleh novel Laskar Pelangi.

Pesanggrahan Bung Karno Bukit Menumbing
Bukit Menumbing sebagai tempat pengasingan Presiden Soekarno di Kota Muntok, Kabupaten Bangka Barat, Provinsi Bangka Belitung, ditempat ini terdapat beberapa peninggalan sejarah dari Bung Karno. Wisma Menumbing yang didirikan pada 1927, berada di puncak Bukit Menumbing menjadi tempat pengasingan Presiden Soekarno dan para tokoh republik pada masa pemerintahan kolonial Belanda. Wisma Menumbing di Kota Muntok –kota yang berada di salah satu ujung Pulau Bangka, didirikan oleh Kesultanan Palembang Darussalam pada masa Sultan Sri Susuhan Mahmud Badaruddin I. Berdasarkan informasi yang terpajang di ruang 102 Wisma Menumbing, Soekarno dan sejumlah tokoh nasional lainnya dibawa ke tempat ini dibagi menjadi tiga kelompok atau rombongan. Rombongan pertama Mohammad Hatta, Mr A.G. Pringgodigdo, Mr. Assaat dan Komodor Udara S Suryadarma yang diasingkan 22 Desember 1948 dari Yogyakarta.  Kemudian rombongan kedua Mr. Moh Roem dan Mr. Ali Sastroamidjojo yang diasingkan dari Yogyakarta ke Manumbing pada 31 Desember 1948 dan rombongan ketiga Bung Karno dan Agus Salim juga diasingkan ke Bangka pada 6 Februari 1949 dari tempat pengasingannya semula di Kota Prapat, Sumatera Utara.
Koleksi di Wisma Menumbing
Ketika tiba di puncak Menumbing, maka kita akan disambut ratusan anak tangga menuju ke Wisma Menumbing. Tangga ini diapit oleh dua punuk tanah di kedua sisinya yang berwarna kehijauan karena ditumbuhi oleh rumput. Ada beberapa pohon kelapa yang nampak di sisi tangga hingga ke bagian luar dari Wisma Menumbing. Hanya ada satu sisi dari tangga menuju ke wisma yang dilengkapi dengan pegangan tangan. Jika tidak terbiasa menaiki tangga yang tinggi, maka bisa berjalan sambil berpegangan di sisi tersebut. Bangunan utama Wisma Menumbing, terdiri dari 6 kamar. Selain itu, ada tambahan dua bangunan lain yang terpisah berturut-turut mempunyai 6 dan 7 kamar. Di Wisma Menumbing juga disimpan mobil berwarna hitam yang biasanya dikendarai oleh Soekarno pada saat pengasingan. Mobil tersebut bermerek Ford De Luxe, empat pintu, dan bermesin 8 silinder buatan tahun 1948. Mobil Ford tersebut mempunyai plat nomor BN 10. Plat nomor dengan awalan BN hingga kini masih digunakan untuk daerah Bangka. Di masa lalu, mobil inilah yang digunakan oleh Soekarno untuk mengunjungi beberapa orang di Kota Muntok dan kota lainnya di Pulau Bangka.
Bekas galian timah di Pulau Bangka, dilihat dari udara.

Museum Timah Muntok
Museum Timah di Muntok –Mentok Pangkal Pinang, Bangka Belitung. Museum Yang dulunya rumah dinas Hoofdt Administrateur Banka Tin Winning Bedrijft (BTW) tersebut beralamat di Jalan Ahmad Yani No. 179, Pangkalpinang. Didirikan tahun 1958 diresmikan pada 2 Agustus 1997, Museum Timah Indonesia adalah satu-satunya museum timah di Indonesia dan bahkan di Asia  dimana kini dikelola PT. Tambang Timah (Persero) Tbk. Pada tanggal 6 Februari 1949 gedung ini menjadi tempat tinggal pemimpin-pemimpin Republik, diantaranya: Bung Hatta; Bung Karno; dan Haji Agus Salim, ketika mereka diasingkan ke Bangka sebelum dipindahkan ke Menumbing Muntok setelah Ibukota Republik Indonesia Yogyakarta diduduki Belanda dengan Agresi Militer (19 Desember 1948). Gedung ini juga pernah menjadi lokasi perundingan pra Roem-Royen oleh tokoh-tokoh penting, diantaranya: Bung Karno; Bung Hatta; dan Haji Agus Salim. Awalnya perundingan ini dilangsungkan di Bukit Menumbing Muntok, lalu dipindahkan ke Pangkal Pinang –karena perundingan ini dihadiri juga oleh pejabat Komisi Tiga Negara, sehingga lahirlah Roem-Royen Statement pada 7 Mei 1949.
Museum Timah Muntok, Pangkal Pinang - Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.
Tanpa pembicaraan-pembicaraan awal antara Soekarno-Hatta dan utusan dari komisi tiga negara atau KTN (Belgia, Australia, Amerika Serikat) di tempat pengasingan mereka di Muntok, perundingan Roem-Royen di Jakarta (22 April 1949) serta Konferensi Meja Bundar (29 Oktober 1949) di Den Hag mungkin saja tidak menelurkan pengakuan kedaulatan seperti yang akhirnya bisa kita baca dalam sejarah.
Pada suatu waktu ketika kami datang ke Pangkal Pinang bertemu KTN yang datang dari Jakarta, Mr Gafar Pringgodigdo berkata, “Aku merasa ada dua sumber percaturan internasional di dunia ini, yaitu: (di) United Nations dan Bangka”. (Memoir Mohammad Hatta, 2002:549)




***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar